Rabu, Februari 13, 2019

Tahapan Perencanaan Penelitian Tindakan Kelas (PTK)

Bagian ini akan membahas langkah awal untuk menyusun proposal PTK, Langkah-langkah tersebut perlu dibahas secara tersendiri mengingat setiap langkah dalam penyusunan proposal PTK sering didahului dengan berbagai hal yang harus dipersiapkan secara cukup teliti. Secara umum, terdapat empat langkah dalam melakukan PTK seperti diperlihatkan pada gambar 1, yaitu perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi (Arikunto, 2006).


model tahap-tahap pelaksanaan kegiatan penelitian tindakan kelas
Gambar 1 Model tahapan-tahapan Pelaksanaan PTK


PTK tidak ubahnya seperti penelitian-penelitian ilmiah lain yang selalu dipersiapkan secara matang. Langkah pertama adalah melakukan perencanaan secara matang dan teliti. Dalam proses perencanaan kegiatan penelitian (PTK), terdapat tiga hal dasar yang menjadi tahapan yaitu, (1) identifikasi masalah pada lingkungan mengajar, (2) perumusan masalah dari hasil identifikasi sebelumnya, (3) dan tahap akhir yaitu pemecahan masalah. Pada tiap tahap tersebut juga memiliki sub kegiatannya masing-masing yang juga sebaiknya dilaksanakan guna menunjang proses PTK yang baik dan sempurna pada tahap perencanaan.


Identifikasi Masalah

Langkah pertama atau tahap awal dalam penyusunan PTK adalah dengan melakukan proses identifikasi masalah. Tahapan identifikasi seperti dianalogikan seorang dokter yang sedang melakukan diagnosis penyakit terhadap pasiennya. Jika diagnosisnya tepat, maka obat yang diberikan pasti tepat. Sebaliknya, jika diagnosisnya salah, maka resep obatnya pasti juga tidak tepat. Demikian pula dalam PTK, identifikasi yang tepat akan mengarahkan pada hasil penelitian yang tepat, sehingga dapat bermanfaat bagi peningkatan hasil belajar siswa. Sebaliknya, identifikasi masalah yang keliru hanya akan membuat penelitian menjadi sia-sia, disamping juga pemborosan waktu dan biaya penelitian.

Identifikasi masalah menjadi titik tolak bagi perencanaan PTK yang lebih matang. Hal ini dikarenakan tidak semua permasalahan belajar yang terjadi dilingkungan sekolah dapat diselesaikan melalui PTK, sama seperti halnya tidak semua penyakit bisa disembuhkan dengan penangan oleh dokter secara umum. Hanya permasalahan yang spesifik yang bisa diselesaikan melalui kegiatan penelitian ini. Kemudian muncul pertanyaan, bagaimanakah cara untuk mengidentifikasi masalah agar tepat sasaran? berikut ini terdapat empat langkah yang dapat dilakukan agar identifikasi masalah mengenai pokok sasaran yang akan diteliti.

pertama, Masalah yang dibahas adalah masalah yang nyata (real) yang dapat dilihat, dirasakan, dan didengar secara langsung oleh guru. Misalnya, sebagian besar nilai matematika siswa kelas IX SMP X berada dibawah standar kelulusan. Masalah ini jelas nyata, karena didukung oleh data empiris berupa dokumen-dokumen ulangan harian maupun ulangan umum. Masalah-masalah model inilah yang layak dikedepankan dalam PTK.

kedua, Masalah harus problematik. Banyak masalah yang terdapat disekolah tempat seorang guru mengajar. Tetapi, tidak semua masalah layak diangkat dalam PTK. Hanya bentuk permasalahan yang bersifat problematik yang layak untuk diangkat dalam kegiatan PTK. Permasalahan problematik adalah permasalahan yang sifatnya dapat dipecahkan oleh guru, mendapat dukungan literatur yang memadai, dan ada kewenangan untuk mengatasinya secara penuh. Misalnya, sebagian besar siswa kelas VII SMP X tidak bisa membaca teks bahasa inggris, tetapi hanya khusus bagi guru bahasa Inggris dikelas tersebut. Sebaliknya, permasalahan tersebut menjadi tidak problematik bagi guru Fisika. Jadi, masalah yang problematik adalah masalah yang dapat diatasi guru, dalam kewenangannya, dan mendapat dukungan literatur sesuai mata pelajaran yang diampu.

ketiga, Manfaatnya jelas. Hasil penelitian harus bermanfaat secara jelas. Yang dimaksud disini adalah PTK berkaitan erat dalam hal proses identifikasi masalah atau tahapan diagnosis masalah. Hasil dari Penelitian Tindakan Kelas (PTK) adalah sesuatu yang bisa dirasakan, atau solusi dari hasil penelitian tersebut bisa teramati atau terdokumentasikan dalam bentuk laporan. Untuk mendapatkan manfaat PTK yang maksimal, jawablah pertanyaan-pertanyaan ini. Apakah yang akan terjadi jika permasalahan yang diteliti berhasil diatasi? Apa yang akan terjadi jika masalah tersebut dibiarkan? Dan, tujuan pendidikan mana yang akan gagal jika masalah tersebut tidak teratasi? Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini akan menuntun para pelaku PTK untuk dapat menemukan hasil atau 'obat' yang mujarab.

keempat, Masalah harus fleksibel. Masalah yang akan diteliti dapat diatasi sesuai dengan kemampuan atau kapabilitas peneliti yang melakukan kegiatan penelitian baik itu berupa waktu, biaya, tenaga, sarana prasarana, dan lain sebagainya. Tidak setiap masalah adalah real, problematik, dan bermanfaat secara jelas, dapat diatasi dengan Penelitian Tindakan Kelas. Misalnya, siswa dan siswi SMP X selalu mogok berangkat kesekolah jika musim tanam tiba, karena mereka harus membantu orang tuanya bercocok tanam.

Analisis Penyebab Masalah dan Merumuskannya

Langkah kedua dalam tahap perencanaan PTK adalah tahap analisis dari penyebab munculnya sebuah permasalahan yang akan diangkat dalam penelitian. Setelah menemukan masalah yang real, problematik, bermanfaat, dan fleksibel, maka masalah tersebut harus ditemukan akar penyebabnya. Banyak cara atau solusi yang dapat dipergunakan dalam proses menemukan sebab masalah. Beberapa diantaranya adalah dengan menyebar angket kesiswa, mewawancarai siswa, observasi langsung, dan lain sebagainya. Misalnya, terdapat masalah bahwa sebagian besar siswa kelas VII SMP X tidak bisa membaca teks bahasa Inggris. Kemudian, peneliti menyebar angket berisi sejumlah pertanyaan yang mengidentifikasikan ketidakmampuan siswa dalam membaca teks bahasa Inggris.

Tidak hanya itu, penelitipun bisa melakukan kegiatan wawancara kepada siswa atau melakukan kegiatan observasi langsung. Setelah itu, data yang telah disebar dikumpulkan kembali kemudian dilakukan analisis secara kolaboratif guna menemukan penyabab utama dari permasalahan. Misalnya, dari data angket dan wawancara, ditemukan bahwa siswa menganggap akar masalah dari ketidakmampuannya membaca teks bahasa Inggris adalah karena hal-hal sebagai berikut:

a. Guru lebih banyak membacakan buku pelajaran dalam bahasa Inggris, sedangkan siswa hanya menyimak.
b. Tidak pernah ada pelajaran membaca teks bahasa Inggris yang dipandu langsung oleh guru.
c. Pelajaran bahasa Inggris masih banyak dijelaskan dengan bahasa Indonesia.

Akar masalah tersebut harus digali sedalam-dalamnya sehingga ditemukan akar masalah yang benar-benar menjadi penyebab utama terjadinya masalah. Akar masalah inilah yang nantinya akan menjadi tolak ukur tindakan. Dengan menemukan akar masalah, maka sama halnya peneliti telah menemukan separuh dari solusi masalah. karena, solusi masalah sebenarnya merupakan kebalikan dari akar masalah. Misalnya, jika akar masalahnya adalah guru lebih banyak membacakan buku pelajaran bahasa Inggris sedangkan siswa hanya menyimak, maka solusi permasalahannya adalah kebalikan dari akar masalah tersebut, yakni siswa harus banyak membacakan teks bahasa Inggris secara bergantian yang dipandu langsung oleh guru. Atau dengan cara lain, yakni dengan mengadakan debat berbahasa Inggris, lomba pidato bahasa Inggris, belajar sambil bernyanyi bahasa Inggris, dan lain sebagainya.

Ide untuk Memecahkan Masalah

Sebagaimana judul yang telah disebutkan sebelumnya, bahwa akar masalah menjadi tumpuan bagi rencana tindakan untuk mengatasi masalah. Rencana tindakan sebagai langkah mengatasi masalah inilah yang disebut dengan ide orisinal peneliti. Namun demikian, sebelum memutuskan tindakan apa yang akan dikenakan kepada siswa, peneliti harus mengembangkan banyak alternatif sebagai pengayaan tindakan. Sekadar contoh, jika ditemukan akar masalahnya adalah guru lebih banyak membacakan buku pelajaran dalam bahasa Inggris sedangkan siswa hanya menyimak, maka langkah yang bisa dikembangkan adalah menggunakan metode reading text, misal siswa membaca teks bahasa Inggris secara berurutan yang langsung dipandu oleh guru; menggunakan metode contoh, misal guru membaca dan siswa menirukan; menggunakan metode diskusi; menggunakan metode debat dalam bahasa Inggris; perlu adanya tugas membaca teks bahasa Inggris; sering diadakan latihan vokal bahasa Inggris agar siswa fasih setiap mengucapkan kata berbahasa Inggris, dan metode lainnya.

Semakin banyak pengembangan alternatif tindakan, maka akan semakin baik. Tetapi, hal yang perlu diingat adalah pengembangan alternatif tindakan tersebut harus berdasarkan analisis SWOT dan SMART (dalam peneltian PTK). Peneliti harus mengetahui kelebihan dan kelemahan masing-masing tindakan, sehingga hasil PTK bisa optimal dengan risiko yang relatif rendah.

Hal yang tidak kalah pentingnya adalah peneliti harus mempunyai dukungan teori atau referensi rujukan atas tindakan yang akan dikenakan kepada siswa. Sebab, PTK adalah kegiatan ilmiah sehingga tanpa adanya dukungan teori yang memadai, sebaik apapun tindakan guru, maka hal itu tidak akan dianggap sebagai perilaku ilmiah.

Setelah selesai dengan tahap identifikasi permasalahan, perumusan, dan penentuan alternatif tindakan yang akan diambil atau solusi permasalahan, maka peneliti selanjutnya dapat membuat judul dari kegiatan penelitian yang akan dilakukan. Sekadar contoh, hasil identifikasi masalah menunjukkan bahwa siswa SMP Yogyakarta kelas VIII lemah dalam percakapan (speaking) bahasa Inggris. Akar masalahnya adalah pembelajaran bahasa Inggris hanya berjalan satu arah, guru mendominasi pembelajaran dikelas.

Kemudian, peneliti mempunyai ide untuk menggunakan metode debat dalam meningkatkan kecakapan speaking siswa. Dukungannya adalah teori komunikasi, motivasi belajar, dan bahasa Inggris. Alasannya, dengan pola komunikasi yang baik siswa akan saling tanya jawab, bahkan membantah dan mendebat. Situasi ini akan memotivasi siswa untuk selalu bisa menjawab pertanyaan dari lawan bicaranya. Secara otomatis, siswa akan terdorong menggunakan kosakata bahasa Inggris yang baik dan benar, agar tidak salah apalagi kalah.

Atas dasar analisis diatas, maka PTK dapat diberi judul "Upaya Peningkatan Kecakapan Speaking Bahasa Inggris dengan Metode Debat untuk Kelas VIII SMP Yogyakarta". Berdasarkan judul tersebut, dapat dibuat perencanaan PTK sebagai berikut.

Perencanaan Tahap 1

Hal-hal yang perlu direncanakan pada tahap ini antara lain:
1) tema apa yang akan diperdebatkan,
2) bagaimana lalu lintas atau peraturan dalam perdebatan,
3) berapa kali masing-masing kelompok melontarkan pertanyaan dan berapa kali hak masing-masing kelompok untuk menjawab dan mendebat,
4) siapa yang bertanya, menjawab, serta yang menyanggah maupun yang mendebat,
5) berapa lama disiapkan, dan lain sebagainya.

Guru bersama siswa merencanakan tema-tema yang akan diangkat dalam perdebatan. Dengan tema-tema tersebut, siswa mencari bahan dan materi pengayaan yang berkaitan dengan tema yang diangkat. Materi tersebut dikuasai dan dibuat pertanyaan untuk dilontarkan kepada kelompok lain. Langkah berikutnya adalah guru memberi tugas kepada siswa untuk mencari tema-tema dengan bahan perdebatan yang berbeda.

Perdebatan sebagaimana dirancang pada penelitian ini hendaknya berbeda dengan perdebatan pada umumnya. Misalnya, guru menentukan tema sesuai dengan kompetensi dasar. Tetapi, bahan, materi, dan pertanyaan dibuat dan disiapkan sendiri oleh siswa. Hasil penguasaan percakapan (speaking) dapat dicek secara otomatis dalam cara siswa melafalkan secara antusias saat sedang mendebat lawan debatnya.

Perencanaan Tahap 2

Guru bersama siswa membicarakan proses yang akan terjadi ketika perdebatan berlangsung. Perencanaan yang dilakukan adalah:
1) Berapa lama perdebatan akan berlangsung,
2) siapa yang akan menjadi penanya dan siapa yang akan menjadi penjawab, serta penyanggah atau pendebat, dan sebaiknya ada siswa lain yang mengamati, agar dapat melaporkan sengitnya perdebatan,
3) bagaimana tanda waktu menyanggah selesai, dan hal-hal lain yang mungkin terjadi,
4) bagaimana giliran lempar pertanyaan dan saling sanggah dilakukan, dan lain sebagainya.

Perencanaan Tahap 3

Guru menyiapkan alat untuk melakukan pengamatan, yakni mencatat hal-hal yang mungkin terjadi ketika perdebatan berlangsung. Letak titik-titik krusial dalam pelaksanaan tindakan antara lain:
1) semangat siswa ketika perdebatan berlangsung baik sipenanya, penyanggah atau pendebat, dan pengamat dari kegiatan debat.
2) kelancaran perdebatan,
3) keseriusan siswa untuk melafalkan kata-kata dalam bahasa Inggris agar bisa sefasih dan selancar mungkin. Ini dapat dilakukan dengan wawancara secara langsung dengan siswa,
4) tingkat kesalahan pengucapan, baik untuk kata, ucapan, dan kalimat yang dilontarkan saat kegiatan debat.
5) tanggapan siswa setelah perdebatan selesai,
6) tanggapan siswa ketika telah menguasai materi, mengucapkan kalimat bahasa Inggris dengan fasih dan tepat, serta hal-hal lain yang perlu dicatat.

Agar proses dan hasil pengamatan dapat berlangsung dengan baik, guru menyiapkan lembar atau format pengamatan seperti diperlihatkan pada gambar 2, misalnya seperti berikut.

contoh gambar tabel pengamatan proses penelitian tindakan kelas
Gambar 2 Contoh bentuk tabel pengamatan proses 

Perencanaan Tahap 4

Guru memikirkan rencana ketika sudah sampai pada refleksi, yang meliputi:
1) kapan (waktu) untuk melaksanakan refleksi,
2) bagaimana cara berefleksinya,
3) siapa saja yang akan diajak refleksi bersama,
4) bagaimana proses refleksi akan terjadi,
5) siapa yang akan menjadi pencatat hasil, dan lain sebagainya.


DAFTAR RUJUKAN

Arikunto, Suharsimi, et al. (2006). Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Bumi Aksara.



Related Posts

Tahapan Perencanaan Penelitian Tindakan Kelas (PTK)
Oleh

mohon untuk melakukan koreksi jika terdapat kesalahan pada penulisan blog ini,