Senin, Februari 11, 2019

Prinsip Penelitian Tindakan Kelas (PTK)

Prinsip merupakan pegangan, dan salah satu fungsi prinsip atau pegangan adalah untuk pedoman. Dalam PTK, terdapat sejumlah prinsip atau pedoman yang harus dipenuhi. Hal ini dimaksudkan agar proses PTK dapat mencapai hasil yang maksimum. Prinsip-prinsip PTK tersebut adalah sebagai berikut:

satu, PTK dilakukan dalam lingkungan pembelajaran yang alamiah

Penelitian Tindakan Kelas (PTK) harus dilaksanakan dalam situasi pembelajaran yang alamiah. Artinya, kegiatan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) harus dilakukan tanpa adanya perubahan pada situasi dan jadwal belajar para siswa. Dengan kata lain, PTK tidak perlu dilakukan dalam situasi yang khusus, apalagi sampai mengubah kebiasaan pembelajaran yang normal. Mengapa demikian? Karena, dengan mengubah situasi pembelajaran demi kepentingan PTK, justru bertentangan dengan tujuan PTK itu sendiri, yakni memperbaiki proses pembelajaran. Jika ketika dilakukan PTK proses pembelajarannya diubah sedemikian rupa, kemudian setelah itu kembali seperti semula, maka sebaik apa pun hasil PTK tidak akan bisa diterapkan dikelas. Perubahan pola pembelajaran tidak mungkin dilakukan secara terus-menerus. Oleh karena itu, PTK harus dilakukan dalam konteks pembelajaran yang alamiah (sebagaimana aslinya) tanpa ada perubahan pola dari pembelajaran.

Inilah sebabnya, mengapa PTK harus dilakukan oleh seorang guru. Hanya guru saja yang bersentuhan langsung dengan kelas dalam jangka waktu yang cukup lama, bukan yang lian, termasuk kepala sekolah sekalipun. Mungkin, kepala sekolah juga sesekali bersentuhan langsung dengan kelas, tetapi hal tersebut frekuensinya sangat terbatas. Oleh karena itu, bagi kepala sekolah yang ingin melakukan PTK sebaiknya penelitian itu diubah menjadi Penelitian Tindakan Sekolah (PTS), bukan lagi PTK. Perbedaannya, jika PTK dilakukan oleh guru demi pengadakan perbaikan pembelajaran dikelasnya, maka PTS dilakukan oleh kepala sekolah terhadap segala hal yang berkaitan dengan sekolah yang dipimpinnya.

dua, Adanya inisiatif dari guru untuk memperbaiki proses pembelajaran

Guru harus peka terhadap persoalan-persoalan yang muncul dalam proses pembelajaran. Bahkan, guru dituntut untuk lebih peka terhadap prestasi belajar siswa-siswanya. Kepekaan dan sensitivitas inilah yang akan mendorong naluri guru untuk memperbaiki proses pembelajaran. PTK merupakan salah satu jalan bagi guru untuk memperbaiki proses pembelajaran tersebut. Dengan demikian, sesungguhnya PTK itu bukan paksaan yang menambah pekerjaan guru, melainkan justru berangkat dari keingingan sang guru yang tulus dan ikhlas sebagai panggilan jiwa. 

Hal serupa juga bisa muncul ketika guru berkenaan melakukan refleksi diri atau evaluasi terhadap munculnya berbagai persoalan dikelas yang ia ampu. Jika guru mau bersikap jujur dan objektif, maka ia akan berasumsi bahwa berbagai persoalan yang muncul bisa disebabkan oleh faktor internal dan eksternal. Faktor eksternal bisa berupa kurangnya fasilitas, sarana prasarana, keluarga, ekonomi, atau faktor lain. Sedangkan faktor internal bisa datang dari siswa atau guru itu sendiri.

Ketiga guru merasa dirinya memiliki andil atas munculnya berbagai persoalan yang muncul dikelas, maka secara naluriah ia akan melakukan PTK dengan sebaik-baiknya. Jadi, PTK bukanlah merupakan paksaan dari pemerintah sebagai syarat kenaikan pangkat, tetapi lebih didasari atas kesadaran diri yang dalam akan kekurangan dalam dirinya dan perasaan tanggung jawan untuk memperbaikinya. 

Atas dasar ini, guru hendaknya mempunyai sensitifitas dan kepekaan yang tinggi terhadap proses pembelajaran dikelas. Jangan sampai guru bersikap masa bodoh terhadap rendahnya hasil belajar siswa, padahal dirinya merupakan bagian dari persoalan tersebut. Jika ada guru yang merasa bahwa dalam proses belajar mengajar tidak ada yang perlu diperbaiki lagi, maka guru tersebut seharusnya menjadi bagian yang harus diperbaiki terlebih dahulu. 

Berangkat dari kesadaran akan segala kekurangan tersebut, guru harus mempunyai inisiatif untuk memperbaiki keadaan. Kemudian, inisiatif tersebut hendaknya diuji coba secara terus menerus, sehingga memperoleh hasil yang maksimal. Jika inisiatif yang satu gagal diuji coba, maka guru harus mempunyai inisiatif lain sebelum kemudian mengujicobakannya berulang kali. Demikian seterusnya, sehingga guru terus menerus melakukan perbaikan melalui PTK.

tiga, Menggunakan analisis SWOT sebagai dasar tindakan

Menurut Arikunto (2006), Penelitian Tindakan Kelas (PTK) harus dimulai dengan melakukan analisis SWOT, yaitu strength (kekuatan), weaknesses (kelemahan), opportunity (kesempatan), dan threat (ancaman). Keempat unsur tersebut hendaknya digunakan dalam analisis terhadap guru yang melakukan tindakan maupun siswa yang dikenai tindakan. Dengan demikian, PTK hanya bisa berjalan jika terdapat kesesuaian antara guru dan siswa. Artinya, inisiatif guru untuk memperbaiki pembelajaran tidak akan berjalan jika siswa tidak mampu mempraktikkannya. Sebaliknya, inisiatif guru harus berangkat dari kemampuan siswa yang dihadapinya. Untuk menemukan inisiatif yang siap diuji coba inilah guru harus menggunakan analisis SWOT sebagai pijakan berpikir.

Sebelum mengidentifikasi yang lain, guru harus mengidentifikasi dirinya sendiri, khususnya dari sudut pandang dua unsur, yakni strength (kekuatan) dan weaknesses (kelemahan). Setelah itu, identifikasi dari sudut pandang yang sama juga harus dilakukan kepada anak didik. Sedangkan dua unsur yang lain yaitu opportunity (kesempatan) dan threat (ancaman), digunakan untuk mengidentifikasi faktor-faktor eksternal yang tidak ada dalam diri guru dan siswa. Artinya, sebelum guru melakukan tindakan atau uji coba, dia harus mempertimbangkan faktor-faktor eksternal yang dapat dimanfaatkan dan menghindari ancaman yang dapat mengganggu jalannya perbaikan atau uji coba dalam penelitian. Hal ini berkaitan dengan prinsip pertama, yakni PTK harus berjalan secara alamiah dan tidak boleh menimbulkan resiko yang tidak diinginkan. 

empat, Adanya upaya yang nyata atau konkret

Ini untuk memperbaiki pembelajaran yang didasarkan pada analisis SWOT, sebagaimana disebutkan sebelumnya, harus berupa 'tindakan' secara konkret, tidak cukup dengan sekadar harapan apalagi angan-angan. Tindakan tersebut harus benar-benar konkret dan dapat ditetapkan. Inilah salah satu ciri khas PTK, yakni adanya 'tindakan' secara praktis dan konkret.

Tindakan secara konkret sebagai manifestasi inisiatif dan analisis SWOT tersebut akan menyatu kedalam sistem pembelajaran yang lebih baik. Tentunya, sebuah ini siatif baru yang diaktualisasikan dalam proses pembelajaran perlu mendapat bantuan dari berbagai unsur yang dilibatkan secara sistematis, mulai dari sarana dan prasarana pendukung, mengubah jadwal pelajaran, gaya mengajar yang berbeda, dan unsur-unsur terkait lainnya. 

lima, Merencanakan dengan SMART

Masih mengutip Suharsimi Arikunto (2006), bahwa dalam PTK harus direncanakan dengan SMART. Tetapi yang dimaksud dengan SMART disini bukanlah 'cerdas' sebagaimana arti harfiah dari kata tersebut dalam bahasa Inggris. SMART yang dimaksudkan Suharsimi Arikunto adalah akronim yang masing-masing hurufnya memiliki makna:

S : Spesific, khususnya, tidak terlalu umum atau luas. Misalnya, melakukan penelitian untuk pelajaran bahasa Indonesia, tetapi hanya satu aspek saja, seperti bicara, menulis, atau mendengar. Dengan demikian, hasilnya jelas karena spesifik.

M : Manageable, dapat dikelola dan dilaksanakan. Artinya, lokasi mudah dijangkau, data dapat dikumpulkan dengan mudah, hasilnya dapat dikoreksi, dan tidak menyulitkan dalam proses penelitiannya. 

A : Acceptable, dapat diterima lingkungan atau achievable (dapat dijangkau, dicapai). Artinya, mudah dilakukan, tidak berbelit dan hal-hal lain yang membuat siswa kesulitan atas tindakan yang dilakukan guru dalam penelitian.

R : Realistic, operasional, tidak diluar jangkauan. Artinya, tidak menyimpang dari tujuan, serta hasilnya bermanfaat baik bagi guru maupun siswa. 

T : Time-Bound, diikat oleh waktu atau terencana. Ada schedule (jadwal) dan target yang jelas kapan dilaksanakan, kapan dapat diselesaikan, dan kapan dapat dilihat hasilnya. Misalnya, kegiatan PTK tertentu akan dilaksanakan selama tiga bulan, empat bulan, lima bulan, dan seterusnya. Sehingga, jika PTK ini akan dilanjutkan ada batasan yang jelas. 

Dari kelima unsur SMART yang dijelaskan sebelumnya, terdapat satu unsur yang mempunyai keterkaitan langsung antara peneliti (guru) dengan subjek yang diteliti atau yang akan dikenai tindakan (siswa). Unsur tersebut adalah acceptable (dapat diterima lingkungan) atau achievable (dapat dijangkau atau dapat dicapai).

Berdasarkan prinsip SMART, khususnya acceptable, maka sebelum melakukan penelitian tindakan kelas, guru harus mengomunikasikannya dengan siswa. apa inisiatif guru, apa yang akan dilakukan, dan apa perangkat yang akan digunakan. Hal ini dimaksudkan untuk mencari kesepakatan apakah siswa mampu melakukan inisiatif guru atau tidak. Kesepakan ini akan menumbuhkan rasa tanggung jawab pada diri siswa untuk sepenuhnya melakukan apa yang akan dilakukan guru dalam penelitian. 

Dengan demikian, tidak akan ada tindakan sewenang-wenang dari guru terhadap siswanya, meskipun tujuannya adalah baik, yakni ingin memperbaiki hasil belajar siswa. Kemampuan siswa juga harus dipertimbangkan, apakah penelitian tindakan yang akan dilakukan memberatkan siswa atau tidak. Walaupun demikian, harus diwaspadai kemungkinan adanya rekayasa diantara guru dan siswa. Artinya, tidak boleh ada kesepakatan sebelumnya antara guru dan siswa untuk merekayasa agar penelitian berhasil dengan baik. Penelitian harus berlangsung secara alamiah. 

Untuk menghindari hal ini terjadi, berikut ini ada beberapa kaidah yang dapat digunakan untuk mencari kesepakatan antara guru dan siswa dalam PTK. Sekali lagi, kesepakatan yang dimaksud adalah kesepakatan yang tanpa paksaan dan tidak memberatkan salah satu pihak.

Inisiatif harus kreatif dan tindakan harus cemerlang

Peneliti (guru) harus menunjukkan kepada peserta didik bahwa ia mempunyai inisiatif yang benar-benar kreatif untuk dituangkan dalam pola pembelajaran melalui sejumlah tindakan. Selanjutnya, guru harus meyakinkan siswa bahwa inisiatif dan tindakan tersebut benar-benar dapat meningkatkan proses belajar aktif siswa, sehingga hasilnya dapat ditingkatkan.

Jika langkah-langkah yang telah dijelaskan sebelumnya dipandang terlalu memberatkan guru, maka peneliti (guru) minimal harus mengupayakan adanya inisiatif dan tindakan yang beru dan berbeda dengan tindakan-tindakan dalam pembelajaran sebelumnya. Sebab, jika masih sama, maka hasilnya sudah bisa ditebak sebelumnya, yakni juga sama.

Misalnya, jika pada penyelesaian pekerjaan rumah (PR) tahap evaluasinya hanya dilakukan dengan saling tuka PR antarsiswa, maka dalam PTK pengerjaannya dilakukan dengan pembahasan bersama para siswa. Caranya, guru menawarkan kepada siswa yang bersedia dan bisa mengerjakan soal tersebut, kemudian memintanya untuk mengerjakan soal dipapan tulis. Jika tidak ada yang bersedia, maka guru boleh menunjuk secara acak salah satu siswanya untuk mengerjakan didepan. Dalam konteks ini, guru harus membantu siswa ketika ia sedang mengerjakan soal didepan, sehingga tidak terkesan hal ini sebagai sebuah hukuman. Inisiatif dan tindakan adalah sesuatu yang jauh lebih baik daripada guru yang mengerjakan sendiri dan siswa memeriksa hasil pekerjaan temannya. Sebab, siswa terlibat aktif dalam pembelajaran dan intensitas belajarnya pun meningkat. Guru juga bisa memikirkan inisiatif-inisiatif lain yang dapat dituangkan dalam bentuk tindakan pada pola-pola pembelajaran lainnya.

Oleh karena itu, idealnya adalah, guru harus mempunyai inisiatif dan kreatifitas untuk bisa mengatasi permasalahan yang muncul dikelas, kemudian mengambil tindakan cemerlang yang dituangkan dalam pola-pola pembelajaran. Jika hal ini dapat dibuktikan kepada semua siswa, maka bisa dipastikan siswa akan menyepakati apa pun yang akan dilakukan guru. Kesepakatan ini akan mendorong munculnya rasa tanggung jawa dalam diri siswa, sehingga sukses atau tidaknya penelitian menjadi tanggung jawab bersama, tanpa ada rekayasa didalamnya.

Terpusat pada proses

Tekanan utama dalam PTK adalah tindakan yang didasari inisiatif kreatif melalui metode SWOT, sebagaimana dijelaskan sebelumny. Artinya, tekanan utama dalam PTK adalah proses (tindakan), bukan hasil dari tindakan itu sendiri. Sebab, jika prosesnya baik, maka hasilnya kemungkinan akan baik juga. Dengan demikian, hal yang perlu diperhatikan bukanlah dari hasil yang baik (pada penelitian), melainkan pada tahapan prosesnya apakah berjalan dengan baik atau tidak. Dan bagaimanakan proses penelitian yang baik itu? proses atau tindakan yang baik adalah dengan mencermati keseluruhan tindakan yang tertuang dalam metode mengajar, apakah telah sesuai dengan kemampuan anak atau belum, lancar atau tidak, memberatkan atau tidak, memotivasi belajar atau tidak, apa hambatan yang muncul, dan aspek-aspek lain yang muncul berkaitan dengan proses pembelajaran.

Bagaimana cara peneliti atau guru dapat mengetahui bahwa suatu tindakan (proses), yang dilakukan itu telah berhasil? Guru harus membuat format pengamatan yang terdiri dari butir-butir evaluasi yang sangat rinci. Pengamatan ini akan lebih objektif jika yang melakukan adalah para kolaborator. Jika hal ini tidak memungkinkan, bisa meminta tolong guru sejawat atau bahkan seorang siswanya yang telah dilatih terlebih dahulu sebelumnya.



DAFTAR RUJUKAN

Arikunto, Suharsimi, et al. (2006). Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Bumi Aksara.



Related Posts

Prinsip Penelitian Tindakan Kelas (PTK)
Oleh

"semoga yang memberikan komentar diberikan berkah kebaikan dari Allah, dijauhkan dari kejahatan, dan diberikan pahala ilmu dan amal jariyah dari sepenggal kata yang ia tinggalkan amiin :) "