Sabtu, Februari 16, 2019

Kesalahan Khusus Penelitian Tindakan Kelas (PTK)

Kesalahan pada Bab I Pendahuluan

Kesalahan pada Penulisan Latar Belakang
Pada bagian latar belakang memuat tiga hal penting yaitu identifikasi masalah, menemukan akar masalah, dan ide kreatif berupa tindakan yang ingin dikenakan kepada siswa. Identifikasi masalah artinya peneliti mendeskripsikan persoalan yang diangkat secara detail dan mendalam. Permasalahan yang diangkat bukan permasalahan yang hanya 'dicari-cari', tetapi benar-benar masalah yang memang layak diangkat dalam PTK. Bahkan, permasalahan tersebut dirasakan oleh peneliti sangat penting dan mendesak untuk dilakukan.

Kesalaham umum yang terjadi adalah peneliti tidak memunculkan permasalahan yang benar-benar kritis dan mendesak untuk segera diatas. Terlebih lagi, jika pada bagian ini peneliti memulai deskripsi masalah dari hal-hal yang sangat umum dan tidak ada hubungannya dengan tema yang diangkat. Sekadar contoh, seorang guru hendak menyorot tentang rendahnya aktivitas belajar matematika, tetapi peneliti ini justru memulai mendeksripsikan persoalan ini dari UU SISDIKNAS. Ini jelas sia-sia dan menajadi tanda bahwa penelitian tidak fokus. Sebaiknya, diskripsi ini dimulai dengan langsung pada persoalan yang hendak diangkat secara tegas, pada, dan mendalam.

Setelah permasalahan berhasil dideskripsikan secara padat dan detail, maka harus dilanjutkan dengan analisis penyebab permasalahan tersebut. Inilah yang disebut dengan menemukan akar masalah. Berbagai teori telah mengakui bahwa menemukan solusi yang akurat diperlukan temuan penyebab masalah secara tepat pula.

Point terakhir pada bagian latar belakang yang harus dicantumkan adalah inisiatif atau ide kreatif peneliti untuk mengatasi masalah yang telah ditemukan akarnya tersebut. Tentu, solusi yang dimaksud adalah tindakan yang akan dikenakan kepada siswa. Yang tidak kalah pentingnya adalah, ide tersebut harus didukung oleh teori yang relevan, sehingga tindakannya bisa dibenarkan secara teoretis.

Kesalahan yang bianya terjadi pada bagian ini adalah peneliti secara tiba-tiba mengemukakan ide atau gagasannya dan ingin mengimplementasikannya di kelas, tanpa alasan ilmiah yang mendukung. Bahkan, sering kali peneliti tidak mencantumkan teori yang relevan untuk mendukung inisiatif tersebut. Hal ini bukan berarti PTK tidak boleh berangkat dari ide atau gagasan si peneliti, hanya saja bila PTK berangkat dari ide atau gagasan peneliti hal tersebut harus didukung teori yang relevan sehingga idenya tersebut dapat dibenarkan secara teoretis.

Kesalahan pada Penulisan Rumusan Masalah
Sebagaimana disebutkan pada bagian-bagian terdahulu, tekanan PTK lebih kepada proses, bukan semata-mata pada hasil. Konsekuensinya, penulisan rumusan masalah tidak bisa tunggal (harus lebih dari satu). Masalah harus dirumuskan sedemikian rupa sehingga dengan menjawab rumusan masalah tersebut, proses pembelajaran benar-benar meningkat. Satu hal yang tidak boleh diabaikan adalah kalimat rumusan masalah harus dimulai dengan kata tanya (dalam kalimat tanya) dan didalamnya harus terdapat metode mengatasi masalah yang digunakan.

Kesalahan umum yang sering terjadi adalah penulisan rumusan masalah bersifat tunggal (hanya satu), itupun kalimatnya tidak lengkap. Contoh, PTK dengan judul "Upaya Peningkatan Aktivitas Belajar Matematika dengan Metode Inquiry Untuk Siswa Kelas V SD Yogyakarta", penulisan rumusan masalah dengan judul tersebut tidak boleh hanya satu, Berikut beberapa jenis contoh kalimat rumusan masalah.

satu, Apakah metode inquiry dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa? Pertanyaan ini harus dijawab pada Bab 2, sekaligus untuk mempertegas bahwa penggunaan metode tersebut benar-benar ada teori yang melandasinya.
dua, Seberapa besar siswa termotivasi dalam belajar dengan menggunakan metode inquiry? Pertanyaan ini menguji apakah metode yang digunakan menarik bagi siswa atau tidak, membebani atau tidak, mudah atau tidak, dan lain sebagainya. Juga, pertanyaan tersebut harus dijawab pada bagian Bab IV.
tiga, Bagaimana penggunaan metode inquiry dalam meningkatkan aktivitas belajar matematika? Pertanyaan ini seolah-olah melanjutkan jawaban atau dua pertanyaan sebelumnya. Jadi, jika jawaban atau kedua pertanyaan di atas menunjukkan adanya peningkatan yang positif, maka pertanyaan ini berusaha untuk menerapkannya secara lebih baik.

Coba perhatikan rumusan masalah diatas! terdapat pola yang sistematis ke arah indikasi peningkatan aktivitas belajar matematika secara jelas. Inilah yang dimaksud dengan rumusan masalah dalam PTK tidak boleh tunggal, tetapi harus lebih dari satu.

Kesalahan pada Penulisan Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian harus merujuk pada rumusan masalah. Misalnya, jika rumusan masalahnya "Apakah metode Active Learning dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa?", maka tujuan dari kegiatan penelitian adalah "Ingin mengetahui apakah penerapan metode Active Learning dapat meningkatkan aktivitas belajar kimia siswa". Demikian seterusnya sehingga tujuan penelitian selalu merujuk pada rumusan masalah.

Kesalahan umum yang terjadi adalah peneliti menuliskan tujuan penelitian tidak sesuai dengan rumusan masalah, baik isinya maupun jumlah poinnya. Tetapi, kesalahan pada subbab ini sangat kecil, karena tidak terlalu sulit untuk mengurutkannya.

Kesalahan pada Penulisan Manfaat
Manfaat Penelitian yang ditulis dalam laporan PTK adalah manfaat bagi siswa. Oleh karena itu, hendaknya para peneliti tidak melebih-lebihkan dalam mencantumkan manfaat penelitiannya, sampai-sampai termasuk mencantumkan manfaat bagi guru dan sekolah.

Kesalahan pada Bab II Kajian Teori dan Tinjauan Pustaka

Kesalahan pada bagian ini adalah kesalahan yang paling banyak dijumpai. Bahkan, kesulitan terbesar dalam PTK adalah pada penyusunan bagian kajian teori dan tinjauan pustaka ini. Bagian ini pula yang disebut banyak peneliti, khususnya guru, rawan dengan kesalahan. Berikut ini adalah keterangan mengenai letak-letak kesalahan tersebut.

Kesalahan pada Penulisan Kajian Teori
Pada prinsipnya, kajian teori berisi deskripsi dari berbagai teori yang relevan dengan judul yang diangkat. Sedangkan kajian pustaka berisi berbagai penelitian yang relevan dengan tema yang diusung. Sekadar contoh, PTK dengan judul "Upaya Peningkatan Aktivitas Belajar Bahasa Inggris dengan Metode Diskusi Kelompok secara Varatif untuk Kelas IX SMA".

Teori yang seharusnya digunakan pada PTK tersebut setidaknya adalah teori tentang remaja. Sebab, siswa-siswai SMA termasuk sebagai golongan anak remaja. Poin-poin penting dari teori remaja yang perlu dikemukakan pada bagian ini adalah sifat-sifat remaja yang ingin mandiri, bebas berkreasi, ingin menunjukkan kemampuannya, dan lain sebagainya. Dengan mengkaji teori remaja ini, maka alasan mengapa metode yang digunakan adalah metode diskusi akan bisa dibenarkan secara teoretis, yakni karena kegiatan diskusi lebih sesuai dengan sifat-sifat remaja itu.

Kesalahan yang sering terjadi adalah peneliti mengisi bagian ini dengan menerjemahkan judul penelitiannya. Misalnya, PTK dengan judul yang telah disebutkan sebelumnya. Kemudian, peneliti menjelaskan kajian teori dengan 'menerjemahkan' judul, seperti Upaya, Peningkatan, Aktivitas, Belajar, Bahasa Inggris, Diskusi, dan seterusnya. Ini bukan kajian teori, melainkan terjemahan judul. Tentunya, hal ini adalah suatu yang kurang tepat dalam kegiatan penelitian.

Kesalahan lain yang juga sering terjadi pada kegiatan PTK adalah peneliti tidak menyebutkan dengan jelas dukungan teoretis secara mendalam atas tindakan yang dikenanan kepada siswa. Jika metode yang digunakan adalah diskusi secara variatif, maka peneliti harus mencari teori yang berbicara tentang tanggung jawab siswa, karena diskusi terkait erat dengan mengungkapkan pendapat secara bertanggung jawab sehingga dengan hal ini diharapkan motivasi belajar akan meningkat. Pendek kata, kajian teori harus menunjukkan adanya hubungan sebab dan akibat antara tindakan yang dikenakan dan dampak yang ditimbulkan.

Kesalahan pada Penulisan Tinjauan Pustaka
Selain kajian teori, harus ada pula tinjauan pustaka. Tinjauan pustaka berisi deskripsi dari beberapa penelitian yang terkait atau relevan. Gunanya adalah untuk melihat posisi penelitian yang diangkat dengan penelitian-penelitian lain yang telah ada. Tetapi, hal ini bukan berarti perbandingan antar penelitian. Tinjauan pustaka hanya dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa penelitian yang diangkat benar-benar berbeda dengan penelitian-penelitian sebelumnya atau penelitian yang telah ada. Oleh karena itu, diakhir bagian ini, harus ditegaskan kembali orisinalitas penelitian yang diangkat.

Kesalahan umum yang sering terjadi adalah peneliti tidak mencantumkan hasil-hasil penelitian sebelumnya, sehingga nilai orisinalitas penelitian menjadi sangat berkurang bila dibandingkan dengan penelitian lain yang telah ada. Hal ini akan membuat banyak pihak ragu, apakah penelitian yang diangkat orisinal atau tidak.

Kesalahan pada Bab III Metode Penelitian

Bab tiga, yang berisi tentang metode penelitian, juga tidak kalah rumitnya bila dibandingkan dengan kajian teori dan tinjauan pustaka pada bab dua. Bagian ini berisi langkah-langkah praktis yang disusun secara detail dan sistematis. Jadi, bagian ini bukan lagi sekadar membahas teori dan konsep penelitian, melainkan telah sampai pada perencanaan, pelaksanaan, observasi,  hingga refleksi. Dengan kata lain, bagian ini berisi perencanaan siklus-siklus dalam penelitian, disamping metodologi secara umum.

Kesalahan yang sering terjadi adalah peneliti tidak menguraikan langkah-langkah tindakan secara praktis, tetapi masih sebatas memaparkan metode secara umum, seperti wawancara, angket, observasi, pengawasan, dan sebagainya. Itu semua baru alat atau instrumen dari penelitian. Sedangkan yang dimaksud pada bagian ini adalah penggunaan alat-alat tersebut sampai pada ranah praktis, disamping penjelasan mengenai alat-alat itu sendiri. Sekadar contoh, ketika metode pengumpulan data menggunakan teknik angket, maka pada bagian ini harus menyebutkan kisi-kisi isi angket dengan jelas. Demikian pula dengan indikator-indikator yang ingin dicapai dalam penelitian. Semuanya harus terurai dengan rinci dan sistematis.

Kesalahan pada Bab IV Hasil Penelitian

Bagian empat adalah bagian inti penelitian yang berisi temuan-temuan penelitian. Temuan penelitian harus terdeskripsikan secara jelas, bahkan jika memungkinkan data sudah ada sebelum dilakukannya penelitian sehingga tampak jelas seberapa besar temuan penelitian tersebut. Secara umum, bagian ini berupaya mendeskripsikan sedetail mungkin dari siklus ke siklus serta tahap demi tahap penelitian serta pencapaian demi pencapaian yang diperoleh dari kegiatan penelitian. Kemudian, dari siklus yang ada dianalisis seberapa besar peningkatan aktivitas belajar yang dapat dicapai dan hasil dari pencapaian tersebut.

Kesalahan umum pada bagian ini adalah, peneliti tidak menguraikan atau mendeskripsikan tindakan yang dilakukan sepanjang penelitian secara rinci, dan detail, mulai dari siklus pertama hingga terakhir. Akibatnya, hasil penelitian lebih mirip seperti karangan yang kurang meyakinkan nilai kebenarannya. Wajar jika penelitian seperti ini tertolak oleh tim penilai karena kurang akurat.



Related Posts

Kesalahan Khusus Penelitian Tindakan Kelas (PTK)
Oleh

"semoga yang memberikan komentar diberikan berkah kebaikan dari Allah, dijauhkan dari kejahatan, dan diberikan pahala ilmu dan amal jariyah dari sepenggal kata yang ia tinggalkan amiin :) "