Minggu, Februari 10, 2019

Karakteristik Penelitian Tindakan Kelas (PTK)

dalam buku yang dibuat oleh Suyadi (2012), PTK mempunyai karakter tersendiri jika dibandingkan dengan penelitian-penelitian lain pada umumnya. Beberapa karakter tersebut adalah sebagai berikut:

pertama, Guru merasa bahwa ada permasalahan yang mendesak untuk segera diselesaikan didalam kelasnya.

Dengan kata lain, guru menyadari bahwa ada sesuatu dalam praktik pembelajarannya yang harus dibenahi, dan ia terpanggil untuk melakukan tindakan-tindakan tertentu untuk memperbaiki persoalan tersebut. Dengan demikian, PTK menjadi khas jika hanya dilakukan dan diprakarsai oleh guru kelas, bukan oleh pihak lain.

Atas dasar ini, guru yang ingin melakukan tindakan kelas paling tidak harus mempunyai panggilan jiwa untuk turut berjuang memperbaiki kualitas pembelajaran dari waktu ke waktu. Tanpa adanya panggilan jiwa ini, seorang guru tidak akan peka dengan berbagai persoalan pendidikan. Ia akan merasa seolah-olah tidak ada persoalan apa pun didalam praktik pembelajaran yang ia lakukan. Akibatnya, ia tidak akan pernah tergerak untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Dalam PTK, guru memang dituntut untuk turut berperan aktif. Inilah salah satu ciri khas yang membedakan antara PTK dengan penelitian lain, yang biasanya dilakukan oleh peneliti dari luar lingkungan 'kelas'.

Sekadar contoh, seoarang guru merasa bahwa dalam daftar hasil nilai ulangan harian matematika, khususnya materi tentang himpunan, hanya ada 30% siswa yang mencapai nilai diatas rata-rata. Sedangkan 70% sisanya mendapatkan nilai dibawah rata-rata, padahal materi tersebut telah dijelaskan berulang kali. Atas dasar ini, sang guru kemudian melakukan refleksi atau perenungan mengapa hal itu bisa terjadi. Kemudian, tumbuh minat dari guru tersebut untuk melakukan penelitian terkait cara-cara apa saja yang bisa digunakan untuk meningkatkan hasil ulangan matematika tersebut. Penelitian yang demikian itulah yang disebut dengan PTK.

Pendek kata, salah satu ciri khas penelitian dapat dikategorikan kedalam PTK adalah adanya persoalan yang dirasakan atau diketahui guru, kemudian sang guru memutuskan untuk bertindak (melakukan tindakan), guna menemukan cara untuk mengatasinya.

kedua, Refleksi diri merupakan ciri khas PTK yang paling esensial. Refleksi ini sekaligus juga membedakan antara PTK dengan penelitian pada umumnya yang menggunakan responden atau populasi secara objektif dalam mengumpulkan data. Dalam PTK, pengumpulan data sering kali diawali dan dilakukan dengan melakukan refleksi diri.

Refleksi yang dimaksud disini adalah refleksi dalam pengertian melakukan introspeksi diri, seperti guru mengingat kembali apa saja tindakan yang telah dilakukan didalam kelas, apa dampak dari tindakan tersebut, mengapa dampaknya menjadi demikian, dan lain sebagainya. Sebagaimana disebutkan oleh Schmuck dalam Suyadi (2012), kita seperti melihat diri kita didalam cermin, melihat tentang berbagai tindakan yang telah kita lakukan dan harapan kita atas tindakan tersebut.

Atas dasar proses refleksi yang telah dilakukan tersebut, guru dimungkinkan untuk melakukan instrospeksi pada diri sendiri, utamanya terkait kekurangan atau kelemahan serta kelebihan dari pola pembelajaran yang telah ia praktikkan selama ini. Kemudian, dari situ ia berusaha mengatasi berbagai kelemahan tersebut dengan tetap melanjutkan dan menyempurnakan apa yang telah menjadi kelebihannya.

Dengan demikian, data dalam PTK dikumpulkan dari praktik pembelajaran sendiri, bukan dari pihak lain. Bahkan, untuk menemukan data yang akurat, guru harus terlibat langsung dalam praktik pembelajaran. Dengan demikian, PTK harus dilakukan oleh guru didalam kelasnya sendiri, bukan dikelas lain dimana ia tidak mengajar didalamnya. Berdasarkan hal tersebut, maka seorang guru sebenarnya memiliki peran ganda, yakni sebagai peneliti disatu sisi dan sebagai pengajar disisi yang lainnya. Walaupun demikian, kedua peran tersebut sebaiknya tidak boleh saling mengganggu dan mengacaukan selama proses PTK. Artinya, guru yang sedang melakukan PTK tidak boleh mengubah kebiasaan proses pembelajaran sebelum ada temuan baru yang merekomendasikan harus ada perubahan pada pola pembelajaran tersebut.

Memang, dalam hal ini, guru bisa lebih leluasa dan terkesan lebih bebas dalam pengumpulkan data karena hanya didasarkan pada refleksi diri. Dengan kata lain, metode pengumpulan data dalam PTK lebih longgar daripada metode pengumpulan data dalam penelitian-penelitian lain pada umumnya. Tetapi, guru harus tetap menggunakan alur logika yang jelas dan prosedur yang sistematis dalam melaksanakan PTK. Misalnya saja, seorang guru merasakan ada problem yang berkenaan dengan rendahnya penguasaan rumus-rumus matematika pada peserta didik yang ia ampu. Maka, ketika guru tersebut hendak melakukan PTK, metode pengumpulan data harus dilakukan melalui proses refleksi yang sistematis dan alur logika yang prosedural.

Berikut ini adalah contoh refleksi yang dimaksud.

Apakah penjelasan saya membingungkan peserta didik?

Apakah saya terlalu cepat dalam menjelaskan rumus-rumus matematika?

Apakah saya telah memberi kesempatan bertanya yang cukup kepada peserta didik?

Apakah saya telah memberi soal-soal latihan yang memadai?

Apakah soal-soal tersebut telah saya koreksi semuanya dan memberi catatan-catatan kesalahan yang dilakukan peserta didik?

Apakah bahasa yang saya gunakan dapat ditangkap dengan jelas oleh seluruh peserta didik?

Melalui berbagai pertanyaan yang ditujukan kepada diri sendiri (refleksi) diatas, guru akan menemukan penyebab dari berbagai perasaan yang dihadapi. Ketika penyebab masalah itu telah ditemukan, maka solusi atau pemecahan atas masalah tersebut bisa mulai dicari. Orang bijak bilang bahwa menemukan penyebab dari sebuah persoalan sama halnya dengan telah menemukan 50% dari solusi yang diinginkan. Dalam hal ini, pihak yang paling jujur dalam mengungkapkan berbagai penyebab tersebut adalah pihak pengamat (kolaborator) dan bukan guru itu sendiri. Sebab, sering kali penyebab masalah tersebut tidak hanya bersumber dari anak-didik, tetapi juga termasuk dari gurunya sendiri.

Sering kali seorang guru kurang suka untuk bisa mengakui dirinya sendiri sebagai sumber masalah. Oleh karena itu, diperlukan adanya pihak kolaborator (teman sejawat atau dosen LPTK) yang bertugas untuk mengamati berjalannya proses pembelajaran agar sumber masalahnya dapat ditemukan secara jujur dan objektif, baik itu berasal dari siswa maupun guru kelas. Inilah yang disebut dengan Penelitian Tindakan Kelas secara kolaboratif.

ketiga, Penelitian Tindakan Kelas dilakukan didalam 'kelas' sehingga fokus perhatian adalah proses pembelajaran antara guru dan siswa melalui interaksi.

makna 'Kelas' yang dimaksud dalam kalimat ini tidak hanya sebatas pada lingkungan fisik ruangan, namun Kelas yang dimaksud sesungguhnya adalah semua 'tempat' dimana proses pembelajaran terjadi antara guru dan siswa tersebut melakukan proses belajar atau berinteraksi. Jadi, boleh-boleh saja bila PTK dilakukan diruang terbuka, seperti dalam pelajaran olahraga yang dilakukan dilapangan, atau ditaman ketika siswa sedang melakukan diskusi agar mereka tidak jenuh terus-menerus didalam kelas.

yang terpenting dalam PTK bukanlah kelas atau ruangnya, tetapi fokus perhatian penelitian kepada proses pembelajaran dalam bentuk interaksi antara guru dan siswa. Sebab, tujuan utama penelitian ini adalah untuk perbaikan pembelajaran yang kaitannya dengan interaksi antara guru dan siswa itu sendiri, bukan terhadap yang lain.

keempat, PTK bertujuan untuk memperbaiki proses pembelajaran secara terus menerus.

Esensi PTK adalah untuk memperbaiki pola pembelajaran secara terus-menerus. Siklus demi siklus didalamnya harus mencerminkan perbaikan demi perbaikan yang dicapai. Siklus sebelumnya merupakan dasar bagi siklus selanjutnya. Dimana hasil pada siklus berikutnya seharusnya jauh lebih baik daripada siklus sebelumnya. Jika PTK dilakukan secara berkelanjutan dari siklus yang satu ke siklus yang lain, maka akan ditemukan model pembelajaran yang tebaik. Demikian seterusnya, sehingga PTK dapat dilakukan secara terus-menerus tiada henti.



DAFTAR RUJUKAN

Suyadi. (2012). Panduan Penelitian Tindakan Kelas. DIVA Press. Jogyakarta.



Related Posts

Karakteristik Penelitian Tindakan Kelas (PTK)
Oleh

"semoga yang memberikan komentar diberikan berkah kebaikan dari Allah, dijauhkan dari kejahatan, dan diberikan pahala ilmu dan amal jariyah dari sepenggal kata yang ia tinggalkan amiin :) "