Kamis, Februari 14, 2019

Identifikasi Masalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK)

Cara yang paling mudah untuk mengidentifikasi masalah adalah dengan mendaftar atau mendata sejumlah masalah yang dihadapi atau dirasakan oleh guru. Tentu saja, akan sangat mudah untuk menemukan sejumlah masalah. Yang sulit adalah mengatasi semua masalah yang ada dalam waktu bersamaan. Oleh karena itu, langkah awal setelah menemukan judul adalah mendaftar sekian banyak masalah, kemudian menyaringnya, hingga menemukan masalah yang paling mendesak untuk diatasi.

Sebuah contoh, buatlah daftar dari 20 masalah yang sering Anda hadapi sehari-hari. Jumlah ini bukan ukuran baku, tetapi hanya untuk menggambarkan bahwa terdapat sekian banyak permasalahan. Kemudian, saringlah hingga menjadi setengahnya atau 10 masalah saja. Selanjutnya, saring lagi untuk yang kedua kalinya hingga menjadi setengahnya atau 5 masalah. Caranya, pilihlah maasalah yang sekiranya dapat diatasi oleh Anda sebagai seorang guru yang profesional. Terakhir, pilih satu masalah saja yang paling krusial dan dapat diatasi.

Setelah masalah ditemukan, maka langkah selanjutnya adalah menemukan akar atau penyebab munculnya masalah tersebut. Setelah ditemukan, peneliti harus mempunyai inisiatif atau ide cemerlang (mengajukan hipotesis tindakan) untuk mengatasi masalah tersebut. Ide atau inisiatif pemecahan masalah inilah yang kemudian diangkat menjadi judul penelitian.

Sekadar contoh, setelah mengidentifikasi sekian banyak masalah, dari 20 permasalahan yang ada ditemukan satu masalah yang paling signifikan, yaitu nilai matematika siswa kelas IX SMP X rendah. Tentu saja, jika hal ini terus dibiarkan maka dampaknya akan sangat buruk bagi para siswa, yaitu tidak lulus Ujian Nasional. Selain itu, citra sekolah juga dapat merosot karena banyaknya siswa yang tidak lulus Ujian Nasional. Dengan mempertimbangkan hal-hal tersebut, maka masalah rendahnya nilai matematika inilah yang paling penting dan mendesak untuk segera dicarikan jalan keluarnya.

Setelah dilakukan identifikasi lebih lanjut, ternyata akar masalahnya adalah pola pembelajaran matematika yang terkesan tidak kooperatif. Bertitik tolak dari temuan akar masalah tersebut, guru lalu berinisiatif untuk mengatasi masalah tersebut dengan metode Cooperative Learning. Dengan kata lain, guru atau peneliti ingin meningkatkan aktivitas belajar matematika kelas IX SMP X dnegan metode Cooperative Learning. Peneliti meyakini bahwa metode ini mampu meningkatkan aktivitas belajar matematika anak didiknya. Sebab, dalam Cooperative Learning terdapat sejumlah kiat belajar yang tidak memberatkan siswa, sehingga aktivitas belajar dapat ditingkatkan.

Jika telah sampai pada tahapan ini maka judul penelitian sudah bisa disusun. Draft sementaranya adalah "Upaya Meningkatkan Aktivitas Belajar Matematika dengan Metode Cooperative Learning" untuk Siswa Kelas IX SMP X. Dari draft judul ini, dapat dilihat bahwa judul dalam PTK harus memuat sejumlah unsur, diantaranya adalah metode Cooperative Learning (ide peneliti), kelas IX SMP (tempat), dan sasaran (pelajaran matematika). Untuk lebih jelasnya, simak contoh judul PTK berikut ini (Gambar 1).

beberapa contoh dari penelitian tindakan kelas
Gambar 1 Contoh judul penelitian tindakan kelas


Identifikasi masalah tersebut masuk dalam Bab 1 (Pendahuluan) dari sebuah laporan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Secara umum, bagian pendahuluan terdiri dari latar belakang masalah, sasaran tindakan, rumusan masalah, tujuan penelitian, dan manfaat penelitian. Dari judul "Upaya Meningkatkan Aktivitas Belajar Matematika dengan Metode Cooperative Learning untuk Siswa Kelas IX SMP" yang dijelaskan sebelumnya, maka berikut ini adalah uraian mengenai bagian-bagian tersebut.

Latar Belakang Masalah

Bagian ini berisi pemaparan atau deskripsi permasalahan yang sedang terjadi. Biasanya, para peneliti mengemukakan fakta yang seharusnya terjadi dengan fakta yang ada dilapangan, sehingga tampak jelas adanya kesenjangan atau permasalahan yang menuntut untuk segera diatasi. Tidak lupa, setiap permasalahan yang diangkat harus ditunjukkan bukti-bukti empirisnya. Misalnya, ditemukan masalah hasil belajar matematika kelas VI SD X rendah. Permasalahan ini dibuktikan secara detail, seperti beberapa nilai rata-rata matematika dikelas tersebut, berapa persen nilai matematika dibawah rata-rata, berapa persen yang diatasnya, dan lain sebagainya. Bukti empirisnya bisa dengan dokumen penilaian, rapor, atau lembar evaluasi lainnya.

Dalam bagian ini juga harus dikemukakan mengenai ide orisinal dari peneliti untuk mengatasi permasalahan tersebut. Tentunya, ide tersebut haruslah didukung dengan argumentasi dan berlandaskan pada teori yang relevan. Walaupun bagian ini bukan wilayah kajian teori sebagaimana akan dibahas (bagian BAB II), tetapi boleh menyinggung beberapa teori yang melandasi ide sang peneliti.

Satu hal yang perlu diingat adalah bahwa bagian ini harus langsung tertuju pada bagian fokus permasalahan, sehingga tidak terkesan bertele-tele. Sekadar contoh, pada PTK yang berjudul "Penggunaan Alat Peraga untuk Meningkatkan Pemahaman Konsep pada Mata Pelajaran Fisika Kelas X di SMA yogyakarta", penulisan latar belakang harus langsung pada pokok persoalan. Kesalahan umum yang sering terjadi adalah peneliti mengawalinya dengan pembahasan yang terlalu melebar, mulai dari UU Sisdiknas atau realitas pendidikan secara nasional. Tentu saja hal ini hanya akan mengacaukan alur logika penelitian.

Sebaiknya, peneliti langsung masuk pada bagian deksripsi atau pemaparan persoalan yang ada, seperti kesulitan siswa dalam memahami konsep dan rumus-rumus dalam Fisika. Kemudian, peneliti mengajukan ide untuk menggunakan alat peraga sebagai upaya untuk membuat siswa mampu memahami konsep tersebut dengan lebih mudah. Tidak lupa, peneliti juga mengemukakan alasan teoritis tentang bagaimana sebuah alat peraga dapat membantu siswa untuk lebih memahami konsep-konsep dalam pelajaran Fisika.

Rumusan Masalah

Secara bahasa, rumus adalah ringkasan atau pernyataan. Rumusan masalah berarti ringkasan atau pernyataan mengenai masalah. Dalam konteks ini, yang dimaksud rumusan masalah adalah ringkasan dari sekian banyak masalah yang tertuang pada bab latar belakang masalah, sehingga menjadi pernyataan yang tepat. Tetapi, pernyataan tersebut akan selalu berupa pertanyaan sehingga kompleksitas permasalahan dapat disederhanakan.

Dalam PTK, rumusan masalah harus mengandung ide peneliti yang akan digunakan untuk mengatasi masalah itu sendiri. Rumusan masalah tidak sekadar kalimat tanya yang sifatnya umum, tetapi telah dirumuskan secara spesifik. Berikut ini adalah beberapa contoh rumusan masalah dalam PTK.

satu, Bagaimana persepsi dan kesan siswa terhadap penerapan metode Cooperative Learning pada mata pelajaran Fisika?
dua, Bagaimana penggunaan alat peraga untuk meningkatkan konsep pada mata pelajaran Fisika dikelas X SMA Yogyakarta?
tiga, Bagaimana meningkatkan hasil belajar matematika dengan metode Cooperative Learning untuk siswa kelas VI SD Yogyakarta?
empat, Bagaimana penerapan Active Learning untuk meningkatkan kemampuan memecahkan masalah pada mata pelajaran kimia dikelas XII SMA Yogyakarta?

Tujuan Penelitian 

Sesuai dengan rumusan masalah yang telah dijelaskan sebelumnya, maka tujuan penelitian harus sejalan dengan jawaban atas pertanyaan dalam rumusan masalah. Dengan mengacu pada rumusan masalah, maka tujuan penelitian adalah menjawab rumusan masalah sebagai berikut:

satu, Untuk mengumpulkan persepsi dan kesan siswa terhadap pelaksanaan pembelajaran Fisika dengan metode Cooperative Learning.
dua, Untuk mendeskripsikan penggunaan alat peraga pada mata pelajaran Fisika dikelas X.
tiga, Untuk menerapkan metode Cooperative Learning dalam pembelajaran Matematika dikelas VI SD.
empat, Untuk menerapkan metode Active Learning dalam pembelajaran Kimia dikelas XII SMA.

Manfaat Penelitian

Karena hakikat PTK adalah untuk meningkatkan proses dan hasil belajar siswa, hendaknya dalam mencantumkan manfaat penelitian lebih menitikberatkan pada apa yang akan diperoleh siswa setelah menggunakan hasil penelitian ini. Sekadar contoh, manfaat temuan dalam penelitian ini adalah seperti berikut:

satu, Terkumpulnya persepsi dan kesan siswa terhadap pelaksanaan pembelajaran Fisika dengan metode Cooperative Learning.
dua, Membuat atau menggunakan alat peraga dalam pembelajaran Fisika kelas X, sehingga hasil belajarnya meningkat.
tiga, Meningkatkan aktivitas dan prestasi belajar matematika siswa kelas VI SD dengan metode Cooperative Learning.
empat, Meningkatkan aktivitas dan hasil belajar Kimia kelas XII dengan metode Active Learning.

Walaupun demikian, guru atau peneliti boleh menambahkan manfaat lain, baik bagi peneliti sendiri maupun sekolah sebagai institusinya. Tetapi, hendaknya tidak berlebihan dalam mencantumkan manfaat PTK bagi guru dan sekolah. Sebab, pada hakikatnya, manfaat PTK adalah untuk siswa. 



Related Posts

Identifikasi Masalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK)
Oleh

"semoga yang memberikan komentar diberikan berkah kebaikan dari Allah, dijauhkan dari kejahatan, dan diberikan pahala ilmu dan amal jariyah dari sepenggal kata yang ia tinggalkan amiin :) "