Minggu, Februari 17, 2019

Etika Penyuntingan Laporan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) Menjadi Artikel Ilmiah Jurnal

Jurnal ilmiah adalah elemen sentral dalam memastikan integritas proses komunikasi ilmiah dan akuntabilitas pihak-pihak terkait, seperti pengarang, publisher, dan pembaca (Tandon, 2014). Jurnal ilmiah yang akan dipublikasikan harus di-review oleh para ahli terlebih dahulu sebelum jurnal tersebut dipublikasikan kepada komunitas ilmiah.

Jurnal biasanya terbit setiap enam bulan sekali atau setiap semester, namun bisa pula setiap bula sekali. Hingga saat ini, artikel-artikel dalam jurnal ilmiah memang masih didominasi oleh kalangan perguruan tinggi, sedangkan guru sekolah yang mampu memasukkan artikelnya dalam jurnal masih sangat sedikit. Walaupun demikian, tidak menutup kemungkinan ada tulisan ilmiah karya guru, khususnya laporan hasil penelitian, yang bisa dipublikasikan melalui jurnal diperguruan tinggi.

Uraian berikut akan membahas mengenai cara penyuntingan laporan hasil penelitian supaya bisa menjadi artikel ilmiah yang siap masuk jurnal. Hal penting untuk dikemukakan, mengingat karakter artikel dijurnal ilmiah sangat berbeda dengan tulisan resmi atau baku dalam laporan penelitian. Dengan kata lain, laporan penelitian tidak bisa semata-mata langsung masuk jurnal tanpa proses revisi atau penyuntingan naskah. Bagian revisi inilah yang sering kali diabaikan oleh mereka yang ingin hasil penelitiannya dapat dipublikasikan secara luas melalui jurnal ilmiah.

Penulisan Jurnal Ilmiah
Jurnal ilmiah yang akan diterbitkan atau dipublikasin biasanya memiliki aturan penulisan dalam pembuatannya. Setiap lembaga atau instansi memiliki aturan tata tulisnya masing-masing dalam pembuatan jurnal ilmiah. Oleh karena itu, penting dan juga perlu untuk diperhatikan di jurnal mana karya ilmiah anda akan dipublikasikan. Secara garis besar ada beberapa aturan umum dalam pembuatan jurnal atau artikel ilmiah, namun ini bukanlah aturan baku mengingat setiap lembaga punya aturannya masing-masing dalam membuat jurnal ilmiah. Aturan-aturan penulisan tersebut adalah sebagai berikut

satu, judul artikel ilmiah dalam jurnal, bagian judul dari jurnal atau artikel ilmiah bisa dibuat sama dengan hasil karya ilmiah hasil penelitian sebelumnya atau sesuai dengan judul PTK yang telah dibuat peneliti.

dua, daftar nama penulis pertama beserta daftar nama-nama lainnya yang terlibat dalam pembuatan karya ilmiah PTK.

tiga, abstrak merupakan bagian penting dari sebuah artikel atau jurnal ilmiah, karena abstrak adalah bagian yang paling banyak dibaca oleh para pembaca (Taback dan Krzyzanowska, 2008).

empat, Isi artikel pada jurnal ilmiah terdiri dari pendahuluan, metodologi penelitian, hasil penelitian, kesimpulan dan saran. Bagian tubuh atau bagian isi artikel berisi tentang penjelasan secara garis besar dari hasil penelitian yang telah dilakukan sebelumnya. Pendahuluan artikel berisi tentang latar belakang masalah yang dijadikan bahan untuk penelitian sesuai dengan rumusan masalah pada penelitian. Metodoligi artikel menjelaskan tentang metode-metode apa saja yang dilakukan pada saat penelitian beserta sarana prasarana dan urutan teknis dari mulai persiapan hingga hasil penelitian tercapat. Hasil penelitian berisi informasi berupa penjelasan statistik, atau narasi hasil penelitian yang dicapai sesuai dengan tujuan penelitian atau tidak. Kesimpulan dan saran artikel berisi informasi yang dapat ditarik atau disimpulkan dari hasil penelitian serta saran yang dapat dilakukan untuk penelitian selanjutnya.

lima, Daftar pustaka. Daftar pustaka, adalah bagian terakhir dari artikel atau jurnal ilmiah yang berisi daftar referensi baik itu kutipan ahli, gambar, atau informasi yang dipergunakan dalam penulisan artikel ilmiah (bukan kutipan dari hasil penelitian PTK sebelumnya). Penulisan daftar pustaka sesuai dengan ketentuan penulisan yang telah ditetapkan oleh instansi tempat publikasi jurnal.

Revisi Laporan Hasil Penelitian
Laporan PTK harus direvisi dengan teliti sebelum masuk jurnal. Revisi adalah proses mempersiapkan naskah (termasuk laporan PTK) siap cetak atau siap terbit, dengan penekanan pada segi ejaan, diksi, dan struktur kalimat. Dalam proses ini, tidak menutup kemungkinan banyak bagian dari laporan yang harus diringkas atau bahkan dipotong sedemikian rupa dengan tanpa mengurangi kandungan informasi didalamnya. Hal ini dikarenakan jumlah halaman dari sebuah artikel jurnal sangat terbatas, yaitu antara 25 hingga 35 halaman (atau dalam kisaran angka tersebut). Jika jumlah laporan PTK mencapai ratusan halaman, bahkan lebih, maka naskah tersebut harus dilakukan revisi sedemikian rupa, hingga memenuhi kriteria jumlah halaman jurnal yang diinginkan.

Peringkasan disana sini adalah bagian yang tidak dapat dihindarkan dalam proses revisi. Pihak yang melakukan revisi sering kali harus meringkas laporan hasil penelitian agar muat masuk dalam jurnal. Walaupun demikian, peneliti tidak perlu khawatir akan hilang dari laporan setelah mengalami proses revisi. Proses revisi ini sebenarnya hanya bersifat pengemasan agar naskah siap cetak dengan kapasitas yang tersedia. Salah satu bentuk pengemasan tersebut adalah dengan peringkasan, pemotongan, dan penggabungan bagian-bagian laporan.

Setiap redaksi jurnal mempunyai tim verifikator tersendiri, dengan standar revisi yang berbeda-beda pula. Biasanya, mereka tidak bersedia menerima naskah hasil laporan PTK yang masih 'mentah', artinya laporan hasil PTK yang masih asli belum disentuh revisi. Oleh karena itu, akan lebih baik jika peneliti melakukan revisi sendiri terlebih dahulu terhadap laporan hasil penelitian sebelum memasukkannya kedalam lembaga penerbit jurnal. Peneliti yang lebih tahu sisi mana saja yang harus dicantumkan dan sisi mana saja yang bisa diringkas atau dihilangkan. Untuk bisa melakukannya dengan baik peneliti harus bisa menentukan bagian-bagian mana didalam laporan yang jika dipotong atau diringkas tidak akan mengurangi informasi atau data yang terkandung didalamnya. Menurut Tandon (2014) ada beberapa hal yang perlu diperhatikan pada saat sebuah artikel ilmiah direvisi (review) untuk dipublikasi di jurnal ilmiah, yakni sebagai berikut:

Saat melakukan revisi keseluruhan artikel ilmiah, hal yang perlu diperhatikan adalah;
satu, Apa isu penting yang ingin diselesaikan (dibahas) pada artikel yang kita buat?
dua, Orisinalitas dari karya ilmiah yang dibuat.
tiga, Masalah etika dalam membuat artikel. Apakah artikel yang dibuat tersebut menyinggung kepentingan suatu pihak atau tidak?
empat, Aturan dan gaya penulisan.

Saat melakukan revisi judul artikel ilmiah, hal yang perlu diperhatikan adalah;
apakah judul yang dibuat tersebut spesifik dan merepleksikan isi dari karya ilmiah secara keseluruhan?

Saat melakukan revisi abstrak artikel ilmiah, hal yang perlu diperhatikan adalah;
satu, Apakah penulisan abstrak sesuai dengan batasan jumlah kata yang telah ditentukan oleh jurnal? Sebuah abstrak biasanya hanya dibatasi sebanyak 200 kata dalam sebuah abstrak artikel ilmiah.
dua, Apakah isi abstrak sudah sesuai dengan isi artikel secara keseluruhan atau sudah mencerminkan bagian dari isi artikel.
tiga, Apakah terdapat perbedaan antara abstrak dan isi artikel baik itu makna yang ambigu atau pun juga pernyataan yang menyebabkan multitafsir dari abstrak terhadap bagian isi artikel penelitian.
empat, Apakah abtrak bisa dipahami tanpa perlu membaca isi artikel?
lima, apakah semua pertanyaan terkait abtrak artikel telah terjawab (dikoreksi) secara keseluruhan?

Saat melakukan revisi pendahuluan artikel ilmiah, hal yang perlu diperhatikan adalah;
satu, Apakah isi pendahuluan dibuat secara ringkas?
dua, Apakah tujuan dari penelitian sudah dimasukkan kedalam bagian pendahuluan?
tiga, Apakah landasan penelitian yang dibuat sesuai dengan PTK yang telah dibuat sebelumnya atau faktor kesenjangan apa (masalah apa) yang ingin diselesaikan pada penelitian ini?
empat, Apakah terdapat istilah-istilah atau kata-kata khusus pada bagian pendahuluan artikel?
lima, Hipotesis apa yang hendak diuji yang disampaikan pada bagian pendahuluan?

Saat melakukan revisi alat dan metodologi penelitian artikel ilmiah, hal yang perlu diperhatikan adalah;
satu, Apakah rancangan metode penelitian sudah sesuai dan spesifik?
dua, Apakah perlu persetujuan dari lembaga tertentu dalam melakukan proses penelitian?
tiga, Apakah penggunaan metode dan alat telah dideskripsikan secara jelas dalam variabel dependen dan independen, serta analisis statistik yang dipergunakan? metode harus dinyatakan dengan cara yang memungkinkan untuk reviewer mengukur penelitian secara tepat.
empat, Jika penelitian telah menyediakan sebuah hipotesis, apakah metode yang dirancang sesuai untuk dipergunakan dalam pengujian hipotesis?

Saat melakukan revisi kesimpulan, tabel, dan gambar artikel ilmiah, hal yang perlu diperhatikan adalah;
satu, Apakah kesimpulan sudah dijelaskan secara jelas?
dua, Apakah media presentasi yang digunakan selaras dengan metode penelitian yang dipakai?
tiga, Apakah penggunaan tabel, gambar, dan grafik sesuai dan memadai dalam artikel ilmiah?
empat, Apakah tabel dan gambar telah diberi label yang sesuai, dan apakah label tersebut memiliki makna atau arti terhadap isi artikel?

Saat melakukan revisi pembahasan atau kesimpulan artikel ilmiah, hal yang perlu diperhatikan adalah;
satu, Apakah isi pembahasan ringkas dan jelas?
dua, Apakah ada pernyataan yang jelas mengenai temuan hasil penelitian?
tiga, Apakah telah dijelaskan mengenai hasil temuan baru dalam penelitian?
empat, Apakah jelas bagaimana sebuah penelitian yang dilakukan cocok dan tidak cocok terhadap literatur yang ada saat ini?
lima, Bagaimakah hasil temuan yang berbeda dijelaskan?
enam, Adakah cacatan kelebihan dan kekurangan pada penelitian?
tujuh, Apakah kesimpulan yang dijelaskan sudah jelas dan ringkas mengenai implikasi dari hasil penelitian dan tahap yang akan dilakukan selanjutnya? jika ada!
delapan, Apakah penjelasan kesimpulan sudah jelas dan tidak berlebihan atau bahkan tidak pantas untuk ditambahkan pada hasil kesimpulan?

Saat melakukan revisi daftar pustaka artikel ilmiah, hal yang perlu diperhatikan adalah:
satu, Apakah daftar pustaka sudah mengikuti ketentuan format jurnal yang diikuti?
dua, Apakah daftar pustaka mengandung konten atau daftar referensi yang rusak?
tiga, Apakah semua daftar refensi yang relevan telah dimasukkan ke dalam daftar pustaka? atau adakah referensi yang terlupakan?
empat, Apakah point utama dari kutipan artikel sudah dikutip secara benar?
lima, Apakah terdapat daftar pustaka yang berlebihan daripada yang dibutuhkan?



DAFTAR RUJUKAN

Taback, N. dan Krzyzanowska, M. K. (2008). A Survey of abstracts of high-impact clinical journals indicated most statistical methods presented are summary statistics. Elsevier: Journal of Clinical Epidemiology. Vol. 61: 277-281. 

Tandon, R. (2014). How to review a scientific paper. Elsevier: Asian Journal of Psychiatry. Vol. 11: 124-127.



Related Posts

Etika Penyuntingan Laporan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) Menjadi Artikel Ilmiah Jurnal
Oleh

"semoga yang memberikan komentar diberikan berkah kebaikan dari Allah, dijauhkan dari kejahatan, dan diberikan pahala ilmu dan amal jariyah dari sepenggal kata yang ia tinggalkan amiin :) "