Minggu, Februari 17, 2019

Etika Ilmiah Penulisan Laporan Penelitian Tindakan Kelas (PTK)

Sikap atau etika, Menurut definisi dalam dunia psikologi adalah bentuk ringkasan evaluasi dari objek psikologis yang kemudian ditangkap kedalam dimensi atribut baik dan buruk, merugikan dan menguntungkan, menyenangkan dan tidak menyenangkan, serta disukai dan tidak disukai (Ajzen, 2001). Sikap merupakan alternatif dari kecenderungan psikologis yang diekspresikan melalui evaluasi entitas tertentu melalui beberapa tingkatan suka atau tidak suka (Eagly & Chaiken, 1993). Sikap ilmiah atau etika ilmiah pada dunia pendidikan atau pendidikan sains adalah istilah yang mengacu kepada 'perilaku' pada kegiatan penelitian ilmiah (Osborne et al, 2003). Sikap ilmiah atau etika ilmiah adalah hal yang sama pentingnya dalam kegiatan penelitian ilmiah atau riset (Penelitian Tindakan Kelas).

Karya ilmiah mempunyai karakter tersendiri yang membedakannya dengan karya-karya tulis lain pada umumnya. Penulisannya pun harus memperhatikan etika-etika ilmiah yang harus ditaati agar isinya dapat meyakinkan semua pihak yang membacanya. Hal ini penting, karena etika ilmiah menyangkut hak, kewajiban, tanggung jawab, dan sejumlah aturan yang harus ditaati oleh penulis dan peneliti. Berikut ini akan dikemukakan sejumlah etika penulisan karya ilmiah, khususnya hasil penelitian.

Jujur 
Jujur merupakan sikap individu untuk berkata atau bertindak sesuai dengan norma (kebenaran) dan aturan, individu yang berani berkata sebenarnya, individu yang berani berbuat benar, melaporkan bentuk perbuatan curang, berani memberikan kesaksian atau perbuatan salah ataupun curang, serta berani mengakui kesalahan (widodo, 2007). Jujur tidak hanya berlaku dalam tutur kata dan perbuatan, tetapi juga dalam penulisan karya ilmiah, termasuk penelitian tindakan kelas. Jujur dalam pengertian secara umum agak berbeda dengan jujur dalam konteks Penelitian Tindakan Kelas, walaupun esensinya tetap sama. Yang dimaksud dengan jujur disini adalah jujur terhadap diri sendiri dan jujur terhadap pembaca secara luas atau masyarakat. Dalam pengertian yang lebih spesifik, jujur adalah mengemukakan data sesuai dengan aslinya tanpa ada rekayasa sedikitpun.

Data atau informasi yang ditulis dalam laporan penelitian harus sesuai dengan keadaan yang sebenarnya. Tampilan data secara jelas dan detail, tanpa mengubah atau memodifikasi sedikit pun. Untuk meyakinkan pembaca atau untuk menjaga keaslian tampilan data tersebut, perlu dicantumkan sumber aslinya secara jelas. Sekadar contoh, jika peneliti menampilkan data berupa tabel yang berisi indeks prestasi siswa, maka peneliti wajib mencantumkan sumber data dalam tabel tersebut. Jika yang diambil dari buku, maka peneliti wajib mencantumkan nama pengarang buku, judul, penerbit, dan tahun terbit serta halamannya, jika perlu. Hal ini akan dibahas pada bagian pengutipan nanti.

Demikian pula ketika peneliti memaparkan data yang berupa pernyataan pendapat dari orang lain. Peneliti harus menyebut namanya, kapan wawancara atau pernyataan itu dikeluarkan, dalam acara apa, dan sebagainya. Sehingga, jika suatu saat ada pihak-pihak yang mempertanyakan keaslian data tersebut, maka peneliti bisa menjawabnya secara akurat.

Bagaimana jika penulis tidak mencantumkan sumbernya, padahal isi laporan penelitiannya sama persis dengan karya orang lain? Sikap ini menyalahi etika ilmiah. Logika ilmiah tidak sama dengan berpikir positif, dimana semua orang harus percaya kepada peneliti bahwa peneliti berperilaku jujur. Kejujuran peneliti didunia ilmiah harus dibuktikan dengan sumber-sumber yang jelas, sehingga dapat dilacak kebenarannya.

Dengan logika ilmiah yang demikian, maka orang yang hanya menjiplak karya orang lain dengan sendirinya telah menunjukkan bahwa dirinya adalah seorang peneliti yang tidak jujur. Termasuk dalam hal ini adalah kejujuran dalam mengutip, baik dalam mengutip secara tidak langsung ataupun penafsiran. Penafsiran data bisa jadi akurat, bisa jadi lemah bahkan salah jika sumber kutipan tidak asli. Kuatnya penafsiran data tergantung pada kapasitas peneliti itu sendiri dalam menganalisis data dan sumber informasi yang digunakan.

Peneliti yang tidak jujur akan menafsirkan data secara sembarangan, bahkan cenderung mengarahkannya kepada maksud tertentu untuk menutupi keterbatasan dan kekurangan dari penelitiannya. Oleh karena itu, jadilah peneliti yang jujur dengan mencantumkan sumber-sumber dari informasi yang dikutip. Semakin akurat data atau sumber informasi yang dijadikan rujukan, maka semakin ilmiah pula karya penelitian yang dilakukan. Sebaliknya, semakin sedikit referensi atau rujukan data yang digunakan, maka semakin lemah pula presisi dan akurasi data yang disajikan, hingga berakibat pada lemahnya hasil penelitian.

Objektif
Antara objektifitas dan kejujuran dalam penelitian sangat sulit dibedakan. Keduanya mempunyai makna yang hampir sama, yakni identifikasi dan interpretasi data tanpa menghiraukan keberhasilan penelitian. Objetifitas yang tinggi akan mengangkat harkat dan martabat peneliti yang bersangkutan, meskipun hasil penelitiannya tidak begitu berhasil. Sebaliknya, objektifitas yang rendah akan menghancurkan harkat dan martabat peneliti, walaupun menampilkan hasil yang baik.

Sekadar contoh, seorang guru melakukan PTK menampilkan indeks prestasi yang lebih tinggi dari sebenarnya hanya karena ia ingin dikatakan bahwa penelitiannya telah berhasil karena ia ingin dikatakan bahwa dari hasil penelitiannya tersebut bisa memperbaiki proses pembelajaran. Ini bukan lagi tidak objektif atau tidak jujur, tetapi telah memasuki tindakan penipuan. Hal ini jelas melanggar kode etik ilmiah dan etika penulisan laporan sebuah penelitian.

Kutipan
Sumber data dalam karya ilmiah adalah sesuatu yang harus dipertanggungjawabkan nilai kebenarannya. Dalam istilah ilmiah, penyebutan sumber data ini dikenal dengan istilah 'kutipan ilmiah'. Jika penulis atau peneliti mengutip teori, data, atau pendapat orang lain baik secara langsung maupun hanya mengambil inti sarinya saja tanpa mencantumkan sumber atau pemilik data atau pendapat tersebut, maka penulis atau peneliti itu dapat dituntut secara hukum. Sebab, peneliti tersebut telah melakukan plagiasi, yakni pemalsuan data. Pemalsuan data dalam konteks ini tidak harus memalsukan dalam artian yang sesungguhnya, tetapi termasuk mengutip tanpa izin (mencantumkan sumbernya) yang dikutip.

Karena pengutipan dilakukan dalam konteks ilmiah, maka teknis penulisan kutipan tidak boleh sembarangan. Semuanya telah diatur oleh para ahli dibidangnya masing-masing, termasuk tentang cara mengutip karya ilmiah milik orang lain. Berikut dikemukakan beberapa contoh kutipan.

Footnote,
Secara harfiah, footnote berarti catatan kaki. Model pengutipan ini paling lengkap dibanding dengan model pengutipan yang lain, karena mencakup semua unsur sumber yang dikutip.

Bodynote,
Secara harfiah, bodynote berarti catatan perut. Artinya, pengutipan dilakukan ditengah-tengah pernyataan, pendapat, atau data yang dikutip. Karena letaknya ditengah, isi kutipanpun tidak sedetail footnote sebagaimana disebutkan diatas, tetapi cukup mencantumkan nama dan tahun.

Endnote,
Secarah harfiah, endnote berarti catatan akhir. Disebut catatan akhir karena pengutipan diletakkan pada bagian akhir setiap bab. Poin-poin kutipan sama persis seperti dalam footnote. Hanya saja, letaknya diakhir setiap bab.

Dengan mencermati beragam cara pengutipan yang telah dijelaskan sebelumnya, dapat dipahami bahwa yang terpenting dari sebuah pengutipan adalah kejujuran dan objektifitas untuk menunjukkan akurasi data. Antara model pengutipan yang satu dengan yang lain tidak ada perbedaan yang signifikan, karena semuanya akan dipertegas dalam daftar pustaka. Jadi, mengikuti model penulisan kutipan manapun boleh, tidak ada yang salah dari ketiga model diatas. Hanya saja, biasanya lembaga penyandang dana penelitian menentukan cara pengutipan secara tersendiri. Hal ini bukan berarti cara lain salah, tetapi hanya semata-mata untuk menyeragamkan saja.

Tata Tulis Ilmiah
Pikiran atau temuan penelitian harus disampaikan dalam bentuk tulisan. Karena tulisan ini mewakili seluruh pikiran kita, khususnya terkait dengan temuan penelitian, maka cara penulisannya pun harus menggunakan kata-kata yang tepat. sebab, tulisan akan dibaca banyak orang, bahkan sebagian orang mengikuti apa yang kita tulis.

Oleh karena itu, gunakan kata-kata yang tepat agar pembaca tidak 'tersesat' dalam memahami maksud dari apa yang kita tulis. Tulisan dapat diibaratkan seperti perahu yang berlayar ke tengah lautan tanpa kendali. Ia akan dibaca banyak orang, dipahami, dan diinterpretasikan banyak pihak. Penulis tidak lagi mampu mengendalikan pikiran dan pemahaman pembacanya. Ingat bahwa setiap kata yang kita tulis sering kali tidak mewakili apa yang kita maksud. Oleh karena itu, pilihlah kata yang benar-benar mewakili apa yang kita maksudkan. Kata-kata tersebut juga harus telah banyak dipahami orang lain, sehingga tidak menimbulkan kerancuan dan kebingungan.

Pilihan Kata
Kata adalah bagian dari kalimat, kalimat adalah bagian dari paragraf, dan paragraf adalah bagian dari suatu bab, yang kemudian semuanya membentuk sebuah teks yang disebut karya tulis ilmiah. Bab demi bab dalam penelitian merupakan bagian dari keseluruhan hasil penelitian. Jika pilihan kata yang digunakan peneliti salah, maka maksud yang hendak disampaikan peneliti tidak akan tersampaikan secara maksimal. Jika kalimatnya saja keliru, maka salah pula paragraf yang akan dikembangkan. Jika paragraf yang dikembangkan keliru, maka salah pula bab demi bab dalam penyusunan karya ilmiah tersebut.

Pemilihan kata adalah hal yang tidak boleh diabaikan dalam penulisan ilmiah, termasuk laporan PTK, adalah suatu bentuk baku dari setiap kata yang dipergunakan. Dengan kata lain, etika pemilihan kata yang tepat dalam penulisan karya ilmiah termasuk juga laporan PTK adalah harus menggunakan kata yang baku sesuai dengan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD).

Struktur Kalimat
Struktur kalimat dapat diartikan sebagai rangkaian kata yang mengandung makna. Kalimat yang baik mempunyai struk yang baik pula. Struktur kalimat adalah serangkaian kata yang terdiri dari S dan P.

Pengembangan Paragraf
Paragraf adalah kesatuan ide, gagasan, atau pemikiran. Paragraf bukan sekadar kumpulan kalimat yang tidak saling terkait. Paragraf adalah paduan ide, gagasan, dan pemikiran yang dikonstruksi secara utuh. Satu paragraf tidak harus terdiri dari beberapa kalimat. Satu paragraf boleh hanya terdiri dari satu kalimat saja. Hal ini tergantung pada luas atau sempitnya gagasan yang ingin dibagun didalamnya.

Hal lain yang tidak kalah penting adalah upaya merangkai paragraf yang satu dengan paragraf yang lain secara berkesinambungan. Artinya, tidak ada ide atau gagasan yang meloncat atau terputus disepanjang tulisan. Inilah yang disebut dengan 'tulisan yang mengalir'. Tulisan yang mengalir adalah tulisan yang mampu menghubungkan ide yang satu dengan ide yang lain melalui rangkaian paragraf demi paragraf yang dirajut dari perpaduan kalimat secara utuh. Walaupun demikian tetap tidak boleh menghilangkah etika ilmiah dalam penulisan laporan penelitian.



DAFTAR RUJUKAN

Ajzen, I. (2001). Nature and operation of attitudes. Annual Review of Psychology, 52,27-58.

Eagly, A. H., & Chaiken, S. (1993). The psychology of attitudes. Orlando, FL: Harcourt.

Osborne, J., Simon, S., & Collins, S. (2003). Attitudes towards science: A review of the literature and its implications. International Journal of Science Education, 25, 1049-1079.

Widodo. (2007). Panduan pendidik pembentukan karakter bangsa. Jakarta: Arman-delta selaras.



Related Posts

Etika Ilmiah Penulisan Laporan Penelitian Tindakan Kelas (PTK)
Oleh

"semoga yang memberikan komentar diberikan berkah kebaikan dari Allah, dijauhkan dari kejahatan, dan diberikan pahala ilmu dan amal jariyah dari sepenggal kata yang ia tinggalkan amiin :) "