Rabu, September 05, 2018

Penelitian Dasar Terapan dan Evaluasi

Setiap mahasiswa yang menuntut ilmu diperguruan tinggi dipersyaratkan untuk memenuhi tugas akhir berupa karya tulis ilmiah. Kita semua tahu untuk mahasiswa program strata satu (S-1) dipersyaratkan membuat skripsi atau tugas akhir untuk mendapatkan gelar sarjana, program  pascasarjana strata dua (S-2) dipersyaratkan membuat tesis untuk mendapat gelar magister, dan program doktoral atau strata tiga (S-3) yang juga sekaligus strata tertinggi pada dunia pendidikan, dipersyaratkan untuk disertasi guna pengukuhannya sebagai seorang doktoral.

Pada dasarnya pendekatan ilmiah berisikan tentang proses pengumpulan fakta dan informasi berupa data, analisis, penafsiran makna, dan diakhiri dengan proses penarikan kesimpulan. Lebih jelas tahapan-tahapan pendekatan ilmiah adalah berikut ini:

tahap satu, Menemukan masalah.
tahap dua, Masalah yang ditemukan dikemukakan dalam bentuk fakta ataupun data.
tahap tiga, Pengembangan hipotesis dan ruang lingkup penelitian (fokus).
tahap empat, Pengumpulan data.
tahap lima, Penarikan kesimpulan, serta tahap akhir.
tahap enam, Generalisasi jika diperlukan.

Dimana ini adalah sebuah metode yang digunakan dalam penelitian dengan proses kehati-hatian dan dilakukan dengan sempurna terhadap sebuah permasalahan hingga akhirnya diperoleh suatu pemecahan atau solusi yang tepat terhadap masalah yang diteliti (Hilway, 1956).

Penelitian meliputi pemberian definisi dan redefinisi terhadap masalah, merumuskan hipotesis atau jawaban sementara, membuat kesimpulan dan sekurang-kurangnya mengadakan pengujian yang hati-hati atas semua kesimpulan untuk menentukan kecocokkan dengan hipotesis (Woody, 1927).

Hal lain terkait proses penelitian juga pernah disampaikan oleh Parson (1946) yang menyatakan bahwa penelitian adalah suatu tahapan pencarian yang sistematis terhadap masalah yang bisa dipecahkan.

Tanpa penelitian ilmu pengetahuan tidak dapat maju dan berkembang, ini adalah salah satu penunjang utama dalam pengembangan ilmu pengetahuan. Tiga syarat yang harus diperhatikan dalam proses penelitian adalah:
pertama. Sistematis, proses penelitian dilakukan secara teratur dan berurutan mulai dari tahap awal hingga tahap akhir dari penelitian. 
kedua. Terencana, proses penelitian dilakukan secara sengaja dan telah disusun dipikirkan sebelumnya.
ketiga. Mengikuti konsep ilmiah, artinya setiap tahapan dari proses penelitian mengikuti kerangka kerja berpikir ilmiah atau sesuai dengan kaidah berpikir secara saintifik dalam memperoleh ilmu pengetahuan.

Dalam makalah ini kami akan membahas dan menjelaskan tentang jenis-jenis penelitian menurut penggunaan hasil dimana terdiri dari peneltian dasar, penelitian terapan, dan penelitian evaluasi

PENELITIAN SECARA UMUM
Terdapat beberapa pengertian mengenai konsep penelitian menurut beberapa pakar, yaitu:
menurut Soerjono Soekanto, penelitian adalah suatu proses ilmiah yang berdasar pada analisis dan kerangka yang tersusun secara sistematis, metodologis, dan konsisten yang bertujuan untuk menggali nilai fakta sebagai sebuah manifestasi harapan manusia terhadap apa yang sedang mereka hadapi.

menurut Sanafiah Faisal, penelitian adalah kegiatan menelaah suatu masalah dengan memakai metode ilmiah yang tersusun secara sistematis dengan tujuan menemukan pengetahuan yang baru dan dapat diandalkan nilai kebenarannya, yang mencakup pengetahuan dunia alam dan dunia sosial.

menurut Soetrisno Hadi, dalam pandangannya menyatakan bahwa penelitian adalah upaya menemukan segala sesuatu untuk mengisi kekosongan atau kekurangan yang ada, mendalami lebih dalam hal apa (pengetahuan) yang telah ada, pengembangan, perluasan, dan menguji kembali nilai sebuah kebenaran yang masih diragukan kebenarannya.

menurut Donald Ary, penelitian adalah proses penerapan pendekatan saintifik dalam sebuah kajian masalah untuk mendapatkan informasi yang memiliki nilai dan berguna serta dapat dipertanggungjawabkan.

menurut John, penelitian iyalah tahapan mencari nilai kebenaran berdasarkan metode yang objektif dan jelas
untuk menemukan korelasi antara fakta dan menghasilkan suatu kaidah tertentu.

menurut Woody, penelitian adalah suatu upaya untuk mengungkapkan sebuah pemikiran kritis dengan menggunakan metode tertentu. Hal ini meliputi pendefinisian makna baru atau juga redefinisi makna yang telah ada terhadap rumusan masalah, formulasi dari sebuah hipotesis, dan juga hasil uji coba yang sangat teliti atas sebuah kesimpulan yang diambil dengan tujuan menemukan suatu kesimpulan yang sesuai dengan hipotesis yang telah dirumuskan sebelumnya. 

menurut Hill Way, pada bukunya yang berjudul Introduction to Research mengungkapkan bahwa penelitian adalah sebuah metode studi yang bersifat mendalam serta penuh dengan ketelitian dan kehati-hatian dari berbagai bentuk fakta yang terpercaya terhadap permasalahan tertentu, yang berguna untuk memecahkan atau mencari solusi dari permasalahan tersebut.

menurut Parson, penelitian adalah suatu upaya mencari segala hal dengan sistematis, yang menekankan pada masalah-masalah yang dapat terpecahkan melalui proses penelitian.

menurut Hadi Sutrisno, penelitian adalah usaha menemukan, menguji, dan mengembangkan nilai kebenaran dari pengetahuan menggunakan metode ilmiah.

menurut Sukmadinata, penelitian adalah sebuah proses mengumpulkan, pengolahan, dan analisis terhadap sebuah atau sekumpulan data secara sistematis dan logis guna mencapai tujuan tertentu.

menurut Mohamad Ali, dalam pandangannya, penelitian iyalah cara memahami suatu proses penyelidikan atau usaha dengan melakukan pencarian bukti yang muncul dan berhubungan dengan permasalahan yang diteliti atau diselidiki, dengan tahapan yang hati-hati sehingga ditemukan pemecahannya.

menurut Supadmoko, menjelaskan bahwa penelitian adalah upaya yang dilakukan dengan kesadaran dan terarah untuk mengetahui fakta baru atau mempelajarinya, juga sebagai sarana penyaluran hasrat keingintahuan oleh manusia.

Dari beberapa pendefinisian diatas, disimpulkan bahwa penelitian adalah suatu kegiatan ilmiah yang dilakukan dengan tujuan untuk penemuan pengembangan, serta upaya untuk menguji nilai kebenaran dari permasalahan atau pengetahuan yang bertujuan untuk mencari solusi dari suatu permasalahan.

Sedangkan untuk jenis-jenis penelitian terbagi dalam beberapa kelompok sesuai dengan tujuan penelitian itu sendiri yang diantaranya :
menurut Penggunaannya, terdiri dari penelitian dasar, penelitian terapan, dan penelitian evaluatif
menurut Pendekatan analisis, terdiri dari peneltian kualitatif dan penelitian kuantitatif.
menurut Kedalaman analisis data, teridri dari peneltian deskriptif, penelitian eksplanatori, dan peneltian eksploratori.
menurut Tingkat eksplanasi, terdiri dari penelitian deskriptif, penelitian komparatif, dan penelitian asosiatif.
menurut Rancangan waktu, terdiri dari peneltian cross sectional (potong lintang) dan penelitian longitudinal.
menutur Tempat penelitian, terdiri dari penelitian laboratory, penelitian kasus atau lapangan, dan penelitian perpustakaan.
menurut Tujuannya, terdiri dari penelitian eksploratif, penelitian verifikasi (pembuktian), dan penelitian kebijaksanaan.
menurut Teknik, terdiri dari penelitian survey dan penelitian eksperimen.
menurut tahapan pengembangan, Penelitian R&D (reasearch and development) dan penelitian gabungan (kualitatif dan kuantitatif).

PENELITIAN DASAR
Penelitian dasar (basic research) atau istilah lain juga disebut dengan penelitian murni adalah penelitian dengan tujuan untuk pengembangan pengetahuan serta diarahkan pada proses pengembangan teori yang telah diteliti sebelumnya atau penemuan kaidah teori baru.

Menurut Jujun S. Sumantri (1985) menyatakan bahwa tujuan dari penelitian murni adalah untuk menemukan ilmu pengetahuan atau pemahaman baru yang belum pernah diketahui sebelumnya.

Sedangkan menurut Sukmadinata (2009), dalam buku yang diterbitkan dengan judul Metode Penelitian Pendidikan memberikan pemahaman bahwa penelitian dasar (basic research) atau juga disebut dengan penelitian pokok (fundamental research) lebih mengarah kepada uji teori, hanya dengan sedikit atau bahkan tanpa menghubungkan hasilnya untuk kepentingan praktik.

Sukmadinata (2009) juga selanjutnya menambahkan bahwa untuk tujuan penelitian dari kepentingan dasar terdiri dari beberapa hal berikut ini:
pertama, Untuk menambah pengetahuan dengan prinsip-prinsip dasar dan hukum-hukum ilmiah, dan
kedua, Untuk meningkatkan pencarian dan metodologi ilmiah.

Wibisono (2002: 4-5) menyatakan bahwa penelitian dasar dilakukan untuk memperluas batas-batas ilmu pengetahuan. Penelitian dasar tidak bertujuan langsung untuk menemukan solusi spesifik terhadap suatu permasalahan atau permasalahan khusus. Kegiatan penelitian ini dilakukan guna memverifikasi teori yang telah ada atau mencari pemahaman lebih jauh dan lebih dalam tentang makna atau konsep dari sebuah teori. Untuk hal inilah, pada penelitian dasar tahapan pertama yang perlu dilakukan adalah tahapan uji konsep atau hipotesis yang kemudian dijadikan sebagai bahan kajian lebih dalam untuk melakukan penarikan kesimpulan terhadap fenomena yang diamati.

Menurut LIPI, definisi dari penelitian dasar adalah untuk meningkatkan pemahaman ilmiah atau pengetahuan dalam hal menemukan kaidah teori baru untuk tujuan praktik tertentu. Dimana hasil dari penelitian ini tidak langsung bisa diterapkan dalam lingkungan saat ini namun memiliki kemungkinan manfaat lain yang lebih berguna untuk jangka panjang.

Sebuah buku dengan judul terbitan Science For The Citizen (Hogben, 1983), dikatakan bahwa penelitian murni tidak memerlukan pertimbangan manfaat atau kegunannya bagi masyarakat. Hal utama yang diperhatikan dari proses penelitian ini adalah asas kesinambungan dan nilai integritas dari pengetahuan atau filosofi ilmu. Proses penelitian dasar bisa mengarah kemana saja, tanpa perlu memikirkan korelasi antara peristiwa yang terjadi dimasyarakat terhadap proses penelitian. Hal ini bisa membawa peneliti kemana saja dalam proses penelitiannya, tanpa perlu memikirkan sudut pandang atau dampak apa yang akan diterima oleh lingkungan.

PENELITIAN TERAPAN
Penelitian terapan atau applied research merupakan penelitian yang dikerjakan dengan maksud untuk menerapkan, menguji, dan mengevaluasi kemampuan suatu teori yang diterapkan dalam pemecahan permasalahan praktis. Menurut Jujun S. Sumantri (1985) penelitian terapan adalah penelitian dengan tujuan untuk memecahkan permasalahan praktis.

Menurut LIPI, penelitian terapan adalah penelitian dengan tujuan untuk meningkatkan pengetahuan secara ilmiah dengan suatu tujuan pemecahan masalah praktis. Diharapkan hasil penelitian terapan dapat langsung dipakai untuk keperluan praktis.

Penelitian terapan juga diterjemahkan dalam makna lain, yaitu metode penyelidikan yang dilakukan secara berhati-hati, berulang, dan sistemik terhadap permasalahan dengan tujuan hasil dari penelitian tersebut dapat langsung digunakan dengan segera untuk keperluan tertentu (M. Nazir, 1988).

Charters (1925) dalam Nazir (1988) mengemukakan beberapa langkah yang dilakukan dalam pelaksanaan penelitian terapan, yaitu:
satu, Suatu hal yang sedang atau sangat diperlukan, dapat diukur, dipelajari, atau dicari kelemahannya.
dua, Dari kelemahan yang telah ditemukan, selanjutnya kelemahan tersebut dipilah untuk dijadikan bahan penelitian.
tiga, Biasanya proses penelitian dilakukan didalam laboratorium.
empat, Dilakukan modifikasi hingga ditemukan solusi atas permasalahan dan hasilnya dapat langsung diterapkan.
lima, Solusi yang didapat dari hasil pemilahan masalah sebelumnya dipertahankan dan digabung dalam satu kesatuan sistem secara permanen.

Contoh proses penelitian terapan seperti: membuat media mengajar untuk meningkatkan kualitas belajar atau daya ingat siswa dalam proses belajar, pengaruh suatu jenis pupuk terhadap hasil panen padi, dan lain sebagainya.

PENELITIAN EVALUASI
Pengertian Penelitian Evaluasi
Evaluasi adalah upaya mengukur dampak atau hasil dari suatu program, proyek, atau aktivitas lain dengan cara perbandingan antara tujuan yang telah ditetapkan terhadap proses bagaimana mencapai tujuan tersebut (Mulyono, 2009). Sedangkan menurut Rika Dwi K (2009) evaluasi merupakan proses penelitian dimana keberhasilan penelitian dapat dicapai dengan cara membandingkan hasil penelitian dengan seperangkat hasil penelitian lainnya yang diharapkan. Hasil dari proses ini selanjutnya dilakukan identifikasi faktor yang memengaruhi pada kejadian kegagalan dan keberhasilan proses penelitian evaluasi.

Viviane dan Gilbert de Lansheere (dalam Inggit Kurniawan, 2009) evaluasi adalah tahapan penentuan materi dan metode pembelajaran telah cocok atau sesuai terhadap hasil yang diharapkan. Sedangkan menurut Zulharman (2007) evaluasi adalah suatu prosedur ilmiah yang sistematis dan dipergunakan untuk koreksi rancangan, efektifitas hasil, dan implementasi dari suatu objek.

Evaluasi program adalah tahapan pendeskripsian dan penilaian program dengan menggunakan beberapa kriteria tertentu guna membantu dalam perumusan kebijakan dan keputusan yang lebih baik. Dalam hal ini evaluasi digunakan sebagai bahan pertimbangan yang dipakai atau digunakan oleh evaluator untuk mendeskripsikan dan menilai tiap-tiap komponen yang diamati, apakah sudah sesuai dengan tujuan atau tidak (Edison, 2009). Menurut Suharsimi Arikunto (2007: 222) penelitian evaluasi dapat juga dimaknai sebagai proses untuk menentukan kebijakan atau keputusan yang diawali dengan pertimbangan nilai-nilai positif atau keuntungan dari suatu program, serta pertimbangan proses yang dilakukan secara teknik dalam kegiatan penelitian.

Berdasarkan beberapa uraian diatas dapat disimpulkan bahwa penelitian evaluasi merupakan suatu prosedur ilmiah yang sistematis dan dilakukan untuk mengukur hasil program atau proyek (efektifitas suatu program) sesuai dengan tujuan yang direncanakan, dengan proses pengumpulan, analisis, dan kajian terhadap pelaksanaan program yang dilakukan secara sistematis dan objektif. Setelah selesai, tahapan selanjutnya adalah perumusan dan penentuan hasil kebijakan dengan terlebih dahulu dilakukan pertimbangan terhadap nilai-nilai positif dan keuntungan terhadap program.

Fungsi dan Tujuan Penelitian Evaluasi
Secara garis besar ada dua fungsi dari tujuan dari penelitian evaluasi (Arikunto, 2007: 222-223), yaitu:
fungsi Evaluasi formatif, adalah proses pengumpulan data pada saat 'pembelajaran' masih atau sedang berlangsung. Data yang telah dikumpulkan dan dievaluasi akan dipergunakan untuk modifikasi atau pembentukan program. Jika dalam prosesnya ditemukan hal yang 'negatif' maka para pengambil keputusan akan mengambil sikap terhadap proses yang sedang berlangsung, sehingga errors atau aktifitas pemborosan yang terjadi pada proses dapat dicegah dan dimimalisir.

fungsi Evaluasi sumatif, proses evaluasi ini akan dilakukan jika semua proses telah selesai dilaksanakan. Evaluasi sumatif dilakukan untuk menentukan sudah sejauh mana kebermanfaatan dari program yang telah digunakan, terutama jika hasilnya terlah dibandingkan dengan program lainnya. Evaluasi sumatif sangat bermanfaat dalam hal data hasil, karena berkaitan dengan program dan prosedur yang digunakan.

Menurut Tayipnapis (1989: 3) ada dua fungsi dari evaluasi, yaitu fungsi formatif dan sumatif. Fungsi formatif, adalah evaluasi yang digunakan untuk pengembangan dan perbaikan proses yang sedang berjalan baik dalam hal program, sumber daya manusia, dan lain sebagainya. Fungsi sumatif, hasil evaluasi ini utamanya digunakan sebagai bahan pertanggungjawaban atas hasil keterangan, seleksi, dan implementasi lanjutan. Dengan demikian proses evaluasi hendaknya dapat membantu dalam hal pengembangan, analisis kebutuhan, implementasi, perbaikan dan perawatan, tahap pertanggungjawaban hasil, seleksi, dan sebagai nilai tambah informasi.

Sementara menurut Dwiyogo (2006: 50), titik tolak dari evaluasi proses atau penelitian evaluasi adalah program hasil yang akan dievaluasi. Ada dua tujuan yang dilakukan dengan proses evaluasi yaitu tujuan umum dan tujuan khusus. Untuk tujuan yang bersifat umum, biasanya pengarah pada evaluasi proses secara keseluruhan, sedangkan untuk tujuan yang bersifat khusus akan diarahakan pada tiap-tiap komponen yang perlu dievaluasi.

Dari beberapa uraian diatas, didapat beberapa kesimpulan bahwa penelitian evaluasi dari segi kegunaan memiliki dua fungsi peran yaitu fungsi formatif dan fungsi sumatif. Fungsi formatif utamanya adalah evaluasi terhadap proses yang sedang berjalan. Sedangkan fungsi sumatif adalah evaluasi proses yang dilakukan setelah semua proses selesai dilaksanakan, bisa dipergunakan sebagai bahan pertanggungjawaban dari hasil proses, dan penentuan kebermanfaatan dari hasil. Penelitian evaluasi juga bertujuan untuk pengamatan hasil secara keseluruhan atau beberapa komponen kecil yang lebih detail.

Prosedur Penelitian Evaluasi
Penelitian evaluasi adalah salah satu jenis dari sekian banyak bentuk dari penelitian. Seperti pada kegiatan umum pada penelitian, penelitian evaluasi juga memiliki tahapan prosedur dalam proses pelaksanannya. Namun menurut Suharsimi Arikunto (2007: 298) perbedaan paling terlihat dari penelitian evaluasi daripada jenis penelitian yang lain adalah pada tahap pengambilan keputusan prosesnya didasarkan pada tolak ukur dan kriteria sasaran yang dicapai melalui program yang dilaksanakan. Tolak ukur inilah yang dijadikan dasar pengambilan keputusan untuk menentukan kualitas maksimal atau yang terbaik yang dikehendaki.

Menurut Suharsimi Arikunto (2007: 229-230) penelitian evaluasi terdiri dari beberapa prosedur sebagai berikut:
satu. Proses melakukan pengkajian atau studi literatur, pengamatan lapangan, dan penggalian informasi dari para ahli guna memperoleh gambaran tentang permasalahan yang akan diteliti.
dua. Peneliti melakukan perumusan masalah dalam bentuk pertanyaan, dimana sebelumnya telah melakukan kajian ulang dari sumber-sumber yang relevan guna mempertajam pokok problematika.
tiga. Peneliti melakukan penyusunan proposal yang mencantumkan latar belakang masalah, landasan diadakan penelitian, problematika yang dihadapi, tujuan akhir yang ingin dicapai, hipotesis yang disertai juga dengan dukungan dari subjek penelitian berupa sampel dan populasinya, teknik pengambilan sampel, dan sumber populasi yang diamati, serta instrument dan teknik pengambilan dan analisis data.
empat. Peneliti membuat perencanaan kegiatan, menyusun instrumen penelitian, menyiapkan sistematika penelitian, dan proses uji coba instrumen.
lima. Pelaksanaan penelitian disesuaikan dengan model penelitian yang telah dipilah. Dalam penelitian evaluasi para peneliti dapat menggunakan model percobaan murni jika semua persyaratan untuk melakukan penelitian tersebut terpenuhi. Untuk pelaksanaan kegiatan ini peneliti membayangkan dalam proses penelitian tersebut adalah suatu yang memang dapat diterapkan. Peneliti juga melakukan kalibrasi dan pengukuran terhadap pengkondisian program yang dievaluasi. Dalam hal ini peneliti telah selesai melakukan kajian terhadap semua sasaran yang dikehendaki sesudah perlakuan diberikan. Dengan kata lain proses penelitian evaluasi telah siap dilakukan dan telah memiliki tolak ukur.
enam. Peneliti mulai mengoleksi data melalui instrument yang telah disusun terhadap komponen-komponen yang akan dievaluasi.
tujuh. Proses analisis data dengan menggunakan tolak ukur yang telah disiapkan sebelumnya.
delapan. Penyimpulan hasil berdasarkan sejauh mana kesesuaian antara tolak ukur dengan data yang telah dikumpulkan.
sembilan. Hasil dari penelitian evaluasi dilaporkan kepada pengelola program atau pihak yang meminta terlenggaranya proses penelitian evaluasi. Hasil dari penelitian evaluasi dipergunakan sebagai bahan pertimbangan lanjutan untuk pengembangan yang lebih baik terhadap program atau hasil, dimana hal ini ditindaklanjuti dengan cara seperti program akan disebarkan secara luas karena hasil dipandang baik. Program dilakukan perbaikan atau revisi karena hasil yang telah ditetapkan belum sesuai dengan tolak ukur atau sasaran yang ingin dicapai atau dikehendaki. Program tidak dilanjutkan karena ada masalah teknis yang tidak baik atau belum layak.

Model-model Penelitian Evaluasi
Penerapan strategi dan pedoman dalam evaluasi program,  model evaluasi terdiri dari beberapa model berikut ini:

Model CIPP
Tujuan dari evaluasi model CIPP adalah perencanaan, pelaksanaan, dan proses pengembangan program (Fuddin, 2007). Mbulu (1995: 62) model CIPP adalah sebuah singkatan dari context evaluation, input evaluation, process evaluation, dan product evaluation yang dikembangkan oleh Daniel Stufflebean beserta rekan-rekannya ditahun 1968 yang berlokasi di Universitas Ohio, dimana pengembangan dari model ini berorientasi pada proses pengambilan keputusan.

Context evaluation atau evaluasi konteks berfungsi dalam hal perencanaan keputusan, penentuan nilai kebutuhan yang ingin dicapai melalui program dan perumusan tujuan program (Tayibnapis, 1989: 10-11). Evaluasi konteks mencakup gambaran latar belakang program yang akan dilakukan evaluasi, pemberian estimasi kebutuhan, tujuan dari program, penentuan sasaran program, dan penentuan sudah sejauh mana hal ini responsif terhadap kebutuhan yang telah diidentifikan (Edison, 2009). Mbulu (1994/1995: 62-63) evaluasi konteks mencakup dua hal berikut ini: a) tahap analisis nilai kebutuhan atau permasalahan yang berkorelasi terhadap kondisi yang aktual saat ini terhadap kondisi yang diharapkan. Apabila telah selesai dilakukan identifikasi terhadap kebutuhan, maka selanjutnya adalah: b) penggambaran dengan jelas dan terperinci mengenai tujuan program guna memperkecil kesenjangan antara kondisi saat ini terhadap kondisi yang diharapkan. Singkatnya adalah, evaluasi konteks merupakan proses evaluasi terhadap kebutuhan atau tujuan dari pemenuhan beserta karakteristik individu yang melakukan proses evaluasi program.

Input evaluation atau evaluasi masukkan berperan dalam pengaturan keputusan, penentuan sumber daya, alternatif yang dipilih, dan perencanaan strategi apa yang digunakan untuk mencapai tujuan (Tayibnapis, 1989: 11). Penggunaan evaluasi ini diterapkan dalam pelaksanaan program, penjadwalan, dan pelaksanaan prosedur (Mbulu, 1994/1995: 63). Sementara menurut Edison (2009) pelaksanaan evaluasi input tujuannya adalah untuk penilaian perancangan program, pemilihan strategi, prosedur, sumber daya baik itu berupa sumber daya manusia atau mata pelajaran serta prasarana yang dibutuhkan untuk mencapai target yang telah ditetapkan. Singkatnya, evaluasi input adalah sebuah model yang dipergunakan dalam penentuan bagaimana penggunaan sumber daya dapat digunakan secara optimal, serta perlukah dilakukan pencarian sumber daya lain atau tidak. Aspek ini juga membantu dalam proses penentuan tahap prosedur dan rancangan implementasi program.

Process evaluation atau evaluasi proses, berfungsi dalam membantu implementasi keputusan. Sudah sejauh mana rencana program telah diterapkan? Perbaikan apa yang perlu dilakukan? Setelah dua pertanyaan ini dapat dijawab, prosedur dapat dilakukan monitorisasi, kontrol, dan perbaikan (Tayibnapis, 1989: 11). Mbulu (1994/1995: 63) evaluasi proses berperan dalam penyediaan dan pemberian informasi data balik dengan tujuan implementasi keputusan, sudah sejauh mana perencanaan dan tindakan yang telah dikerjakan guna mengetahui pelaksanaan program telah sesuai dengan prosedur dan jadwal yang telah ditetapkan. Evaluasi proses dilaksanakan bertujuan untuk mendapatkan informasi terkait bagaimana program diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari, serta bagaimana peran sumber daya dalam implementasi program tersebut dan fungsinya terkait perbaikan kualitas program yang telah berjalan serta informasi yang diberikan sebagai alat bantu untuk penilaian apakah sebuah proyek relatif sukses atau gagal dilaksanakan (Edison, 2009).

Product evaluation atau evaluasi produk berfungsi dalam membantu pembuatan keputusan lanjutan. Pencapaian atau hasil apa yang telah didapat? Tindakan apa yang dilakukan setelah program berjalan? (Tayibnapis, 1989: 11). Menurut Edison (2009) evaluasi produk bertujuan dalam pengakomodasian informasi guna meyakinkan kondisi seperti apa sebuah kondisi dapat dicapai, juga penetapan jika strategi atau prosedur yang terkait dengan metode yang telah ditetapkan sebaiknya berhenti, dilakukan modifikasi, atau dilanjutkan pelaksanaannya dalam bentuk seperti yang sekarang. Evaluasi produk mencakup tahap penentuan dan penilaian dampak umum atau dampak khusus suatu program, pengukuran dampak terantisipasi, identifikasi dampak tak terduga, perkiraan dampak positif dari sebuah program serta pengukuran keefektifan program. Sedangkan menurut Mbulu (1994/1995: 64) beberapa jenis dari evaluasi dipergunakan untuk: a) membantu pembuatan keputusan selanjutnya, seberapa besar hasil pencapaian setelah program terlaksana. b) pengukuran tingkat keberhasilan pencapaian tujuan dari suatu program yang telah ditetapkan.

Model Evaluasi UCLA
Tayibnapis (1989:11), Alkin (1969) membuat kerangka mengenai rancangan kerja evaluasi atau kerangka yang mirip seperti model CIPP. Alkin mendefinisikan evaluasi adalah sebuah tahapan meyakinkan keputusan, pemilihan informasi tepat, pengumpulan, dan analisis informasi hingga hasilnya dapat dilaporkan secara ringkas berupa data yang berguna untuk membuat keputusan atau memilah beberapa alternatif. Alkin mengemukakan hal tersebut dalam lima bentuk evaluasi, yaitu:
bentuk System assessment, pemberian informasi kondisi atau profil dari sistem mengenai keadaan atau posisi dari sistem.
bentuk Program planning, membantu memilah mana yang memiliki kemungkinan berhasil dalam memenuhi kebutuhan dari program.
bentuk Program implementation, penyiapan informasi apakah program tersebut telah disosialisasikan kepada kelompok secara tepat sesuai dengan perencanaan awal.
bentuk Program improvement, pemberian informasi mengenai fungsi program, bagaimana cara pengoperasian program, dan apakah program dapat berjalan normal atau tidak? Apakah program bergerak searah dengan tujuan awal atau terjadi hal lain yang tak terduga.
bentuk Program certification, pemberian informasi mengenai nilai tambah dari suatu program.

Model Evaluasi Brinkerhoff
Model Brinkerhoff adalah model yang mengemukakan tiga jenis design (Dwiyogo, 2006: 54):
design pertama. Fixed vs Emergent evaluation design, perancangan model fixed ditetapkan dan perecanaannya dibuat secara sistematis dan pengembangannya mengacu kepada tujuan dari program. Perencanaan untuk tahap analisis telah dibuat sebelumnya dimana pengguna akan diberikan informasi pada desain ini menggunakan angket, tes, dan lembar wawancara. Lain halnya dengan desain fixed, maksud dari pembuatan desain emergent adalah untuk menangkap masukkan-masukkan baru. Pada prinsipnya, desain atau rancangan ini dapat berkembang tergantung pada kondisi sesuai dengan kebutuhan.

design kedua. Formative vs summative evaluation design, evaluasi ini berperan dalam hal perolehan data bagi keperluan revisi terhadap program. Lain halnya dengan evaluasi sumatif, tujuan dari evaluasi ini adalah untuk penilaian terhadap kegunaan suatu program. Evaluasi sumatif berkonsentrasi pada evaluasi variabel-variabel yang dianggap penting dan memiliki korelasi terhadap kebutuhan penentuan keputusan atau pengambilan keputusan.

design ketiga. Design experimental dan quasy experimental vs natural inquiry. Pada tahap ini, desain-desain tersebut dihasilkan dari proses adopsi terhadap disiplin penelitian. Desain eksperimental dan quasi eksperimental digunakan dalam hal penilaian program yang baru diujicobakan. Sedangkan untuk desain natural inquiri, prosesnya dilakukan dengan cara evaluator ikut terlibat secara langsung ke sumber informasi serta program yang dilaksanakan.

Model Evaluasi Stake
Model ini dikembangkan oleh Stake pada tahun 1967, model ini memberikan penekanan pada dua dasar aktivitas pada proses evaluasi yaitu description dan judgement, serta dibedakan atas tiga tahapan program yaitu: antecedents (konteks penelitian), transaction (proses penelitian), dan outcomes (keluaran atau hasil) (Tayibnapis, 1989: 11).

Tahap antecedents (Mbulu, 1994/1995: 74-75) terkait dengan kondisi yang telah ada hingga pada saat dilaksanakan instruksi yang berhubungan dengan pencapaian yang telah didapat. Tahap transaksi (transactions) terkait dengan proses instruksi serta hasil pencapaian dimana hal ini dipengaruhi oleh proses itu sendiri. Tahap outcomes menekankan pada hasil pencapaian setelah program diterapkan dan dipergunakan dalam penentuan langkah kerja tahap selanjutnya.

Penekanan umum pada model Stake adalah evaluator membuat penilaian terhadap program yang dievaluasi. Stake juga berkata bahwa tahap deskripsi disatu pihak juga tidak sama dengan judgement atau menilai. Model Stake (antecedents, process, dan outcomes), membandingkan tidak hanya dalam hal penentuan apakah terdapat perbedaan pada tujuan dengan kondisi sebenarnya, tetapi juga membandingkannya dengan standar yang absolut, dalam hal penilaian manfaat dan program (Tayibnapis, 1989: 16-17).

Perbedaan antara penelitian dasar, penelitian terapan, dan penelitian evaluatif seperti ditampilkan pada gambar tabel berikut ini
Perbedaan antara penelitian dasar, penelitian terapan, dan penelitian evaluatif disajikan pada tabel diatas berikut ini:

KESIMPULAN
Dari beberapa penjelasan sebelumnya, maka dapat diambil beberapa kesimpulan terkait penelitian dasar, penelitian terapan, dan penelitian evaluatif.

Penelitian dasar (basic research) atau bisa disebut dengan penelitian murni merupakan penelitian yang diperuntukkan bagi pengembangan suatu ilmu pengetahuan serta diarahkan pada pengembangan teori-teori yang ada atau menemukan teori baru.

Penelitian terapan atau applied research merupakan penelitian yang dikerjakan dengan maksud untuk menerapkan, dan mengevaluasi kemampuan suatu teori yang diterapkan dalam pemecahan permasalahan praktis.

Penelitian evaluasi merupakan suatu prosedur ilmiah yang sistematis yang dilakukan untuk mengukur hasil program atau proyek (efektifitas suatu program) sesuai dengan tujuan yang direncanakan, dengan cara mengumpulkan, menganalisis, dan mengkaji pelaksanaan program yang dilakukan secara objektif. 


DAFTAR RUJUKAN

Asmani dan  Jamal, Ma'mur. 2011. Tuntunan lengkap metodologi praktis penelitian pendidikan. Yogyakarta: DIVA Press.

Fathoni, Abdurrahmat. 2006. Metodologi penelitian dan teknik penyusunan skripsi. Yogyakarta: DIVA Press.

Hasan, Iqbal. 2004. Analisis data penelitian dengan statistik. Jakarta: Bumi aksara.

Kuncoro, Mudrajad. 2009. Metode riset untuk bisnis dan ekonomi, bagaimana meneliti dan menulis tesis?. Jakarta: Erlangga.

Sudjana, dkk. 2001. Penelitian dan penilaian pendidikan. Bandung: Sinar baru algesindo.

www.seputarpengetahuan.com

Suryabrata, Sumadi. 2002. Metodologi penelitian. Jakarta: Raja Grafindo Persada.



Related Posts

Penelitian Dasar Terapan dan Evaluasi
Oleh

1 komentar:

mohon untuk melakukan koreksi jika terdapat kesalahan pada penulisan blog ini,