Rabu, April 04, 2018

Penelitian Cross Sectional dan Penelitian Longitudinal

Penelitian adalah upaya dalam mencari kebenaran mengenai permasalahan atau kejadian unik dengan menggunakan metode penelitian. Secara umum penelitian bertujuan untuk mengembangkan khasanah ilmu pengetahuan dengan memperoleh fakta baru, sehingga dapat disusun teori konsep, hukum, kaidah, dan metodologi yang baru. Penelitian dikelompokkan ke dalam beberapa jenis berdasarkan kriterianya, diantaranya penelitian berdasarkan manfaat dan tujuannya, penelitian dasar (basic research) dan penelitian terapan (applied research). Bedasarkan jenis data yaitu, penelitian kuantitatif dan penelitian kualitatif. Berdasarkan pendekatan waktu yaitu, penelitian Cross Sectional dan penelitian Longitudinal.

Dalam proses melakukan penelitian, ada beberapa tahapan atau langkah sebelum melakukan analisis data. Prosesnya meliputi tahapan penentuan rumusan masalah atau problem, lalu membuat hipotesis dari hasil yang diamati. Setelah itu melakukan definisi dan kajian teori. Pada langkah ini peneliti mempelajari literatur sebanyak-banyaknya. Setelah itu barulah melakukan kegiatan sampling instrumen untuk tahap pengumpulan data penelitian. Setelah itu barulah peneliti menginterpretasikan temuannya dan menarik kesimpulan. Dalam makalah ini membahas penelitian berdasarkan dimensi pendekatan waktu yaitu, penelitian Cross Sectional dan penelitian Longitudinal

Penelitian Cross Sectional
Pengertian Penelitian Cross Sectional
Penelitian Cross Sectional adalah studi yang mempelajari dinamika hubungan atau korelasi antara faktor-faktor risiko dengan dampak, pendekatan yang dilakukan adalah dengan observasi atau pengumpulan data sekaligus pada kondisi waktu tertentu (point time approach). Tiap-tiap subjek penelitian hanya diobservasi satu kali saja dan rentang waktu ukur dilakukan terhadap status karakter atau variabel subjek pada saat penelitian. Subjek penelitian tidak harus diamati pada waktu yang sama. Desain ini dapat mengetahui dengan jelas mana yang jadi proses dan outcome, serta kejelasan korelasi hubungan sebab akibat (Notoatmodjo, 2002).

Sederhananya, Cross sectional dapat dipahami sebagai studi yang mempelajari beberapa variabel pengamatan dalam satu waktu secara sekaligus guna mencari hubungan sebab akibat antara variabel independen terhadap variabel dependen. Jika dianalogikan, cross sectional (potong lintang) itu seperti sebuah untaian panjang dari kue tiramisu (tiramisu loh ya, bukan tira miss you :*, hehehe), dibagian manapun dari potongan yang diambil maka rasa yang akan dirasakan adalah sama, dengan catatan kue tersebut langsung dimakan pada saat itu juga. Karena jika kue dimakan pada hari lain maka rasanya akan berbeda (jadi penelitian longitudinal) meskipun potongan yang diambil adalah pada potongan bagian yang sama dari kue tiramisu. Kebanyakan, studi kasus yang dilakukan dengan menggunakan penelitian cross sectional adalah penelitian terkait dunia medis, namun demikian kegiatan penelitian cross sectional bukanlah kegiatan penelitian yang hanya sebatas kegiatan penelitian dibidang medis.

Tujuan Penelitian Cross Sectional
Menurut Budiarto (2004), tujuan dari penelitian Cross Sectional adalah sebagai berikut :
Pertama, Mencari prevalensi serta insidensi satu atau beberapa permasalahan tertentu yang ditemukan pada kondisi waktu tertentu di suatu kelompok masyarakat. 
Kedua, Memperkirakan adanya hubungan sebab akibat pada permasalahan-permasalahan tertentu yang terdapat dalam kelompok masyarakat dengan perubahan yang jelas. 
Ketiga, Menghitung besarnya risiko tiap kelompok, risiko relatif, dan risiko atribut.

Karakteristik Cross Sectional
Penelitian atau studi Cross Sectional lebih banyak dilakukan dibanding penelitian longitudinal, hal ini karena studi Cross Sectional lebih sederhana dan lebih hemat biaya penelitian. Dalam penelitian Cross Sectional, peneliti hanya melakukan pengamatan fenomena pada satu titik dan waktu tertentu saja. Pada penelitian yang bersifat eksploratif, deskriptif, ataupun eksplanatif, penelitian Cross Sectional mampu menjelaskan hubungan satu variabel dengan variabel lain pada populasi yang diteliti, menguji keberlakuan suatu model atau rumusan hipotesis serta pola atau tingkat perbedaan antara sampling yang diamati pada satu titik dan waktu pengamatan. Namun penelitian Cross Sectional tidak memiliki kemampuan untuk menjelaskan dinamika perubahan kondisi atau hubungan dari populasi yang diamatinya dalam periode waktu yang berbeda, serta variabel dinamis yang memengaruhinya. 

Kekurangan atau kelemahan dari penelitian dengan metode Cross Sectional adalah ketidakmampuannya dalam menjelaskan proses yang terjadi dalam objek atau variabel yang diteliti serta hubungan korelasinya. Rancangan Cross Sectional mampu menjelaskan hubungan antara dua variabel, namun penelitian ini tidak mampu menunjukkan arah hubungan kausal antara kedua variabel yang diamati tersebut (Shklovski et al, 2004).

Jenis Cross Sectional
Dalam penelitian terdapat dua jenis, yaitu Deskriptif Cross Sectional dan Analitik Cross Sectional. Deskriptif Cross Sectional mendeskripsikan distribusi data dihubungkan dengan variabel penelitian, sedangkan Analitik Cross Sectional diketahui dengan jelas mana yang jadi outcome, serta jelas kaitan hubungan sebab akibatnya. Contoh penelitian Deskriptif Cross Sectional adalah angka kejadian diare didesa X tahun 2001 dan contoh penelitian Analitik Cross Sectional adalah hubungan pendidikan orang tua dengan kejadian diare yang diukur pada waktu bersamaan. Jenis cross sectional pada dasarnya hanyalah merupakan variasi model pengumpulan dan analisis data yang tahap pengambilannya hanya pada rentang waktu tertentu. 

Ciri-ciri Penelitian Cross Sectional
Menurut Budiarto (2004), ciri khas yang terdapat pada penelitian Cross Sectional adalah:
pertama, Pengumpulan data dilakukan pada satu rentang waktu tertentu, singkat, dan proses pengamatan subjek studi hanya dilakukan sekali saja pada rentang waktu yang telah ditetapkan.
kedua, Perhitungan perkiraan besar sampel yang diambil tidak memerhatikan besarnya kelompok yang diamati, apakah merupakan bagian terbesar atau tidak.
ketiga, Pengumpulan data dapat diarahkan sesuai dengan kriteria subjek studi yang telah ditetapkan sebelum memulai kegiatan penelitian.
keempat, Tidak terdapat kelompok kontrol terhadap sampling secara keseluruhan dan tidak terapat hipotesis spesifik terhadap penelitian tersebut.
kelima, Hubungan sebab akibat hanya berupa perkiraan sementara, dimana hasil tersebut dapat dipergunakan sebagai  hipotesis untuk penelitian analitik atau eksperimental lanjutan, atau menjadi bagian dari kegiatan penelitian untuk jangka waktu panjang (longitudinal). 

Kelebihan dan Kekurangan Penelitian dengan Pendekatan Cross Sectional
Kelebihan pendekatan dengan metode Cross Sectional yang dikutip dari Sayogo (2009) adalah:

pertama, Penelitian Cross Sectional memungkinkan sampling dari populasi dari masyarakat umum yang generalisasinya cukup.
kedua, Biaya penelitian relatif lebih murah dan hasilnya yang didapat lebih cepat untuk diperoleh karena jangka waktu penelitian yang sebentar atau hanya dalam satu periode waktu saja, sehingga  biaya operasional penelitian jadi lebih murah.
ketiga, Hasil dari penelitian ini dapat dipakai untuk meneliti banyak variabel sekaligus.
keempat, Jarang terancam loss to follow up (drop out).
kelima, Dapat dimasukkan ketahapan pertama suatu penelitian cohort atau eksperimen, tanpa atau dengan sedikit sekali menambah biaya, karena hasil penelitian cross setional hanya berupa data pada periode waktu tertentu dan dapat digabung terhadap hasil perubahan dari hasil penelitian lainnya yang masih relevan atau memiliki korelasi terhadap hasil penelitian.
keenam, Hasil penelitian dapat digunakan untuk bahan penelitian lanjutan yang bersifat lebih konklusif.
terakhir, Membangun hipotesis dari hasil analisis.

Kekurangan penelitian Cross Sectional yang dikutip dari Sayogo (2009) adalah sebagai berikut:
pertama, Sulit untuk menentukan sebab akibat karena pengambilan data risiko dan efek dilakukan pada saat yang bersamaan (temporal relation tidak jelas) sehingga dibutuhkan data tambahan atau penelitian lanjutan untuk dapat menemukan hubungan sebab akibat tersebut.
kedua, Studi prevalens lebih banyak menjaring subjek jangka panjang dibanding jangka pendek.
ketiga, Dibutuhkan jumlah subjek yang cukup banyak, terutama bila variabel yang dipelajari banyak.
keempat, Tidak praktis untuk meneliti kasus yang jarang terjadi, karena akan sulit untuk menemukan gejala atau pola prediksi jangka panjang.

Langkah Perancangan Penelitian Cross Sectional
Rancangan penelitian Cross Sectional dijelaskan sebagai berikut (Notoadmodjo, 2002):
pertama, Identifikasi variabel penelitian dan identifikasi faktor risiko serta faktor efek.
kedua, Menetapkan subjek penelitian baik berupa kondisi dan jumlah sampel yang akan diambil pada kegiatan penelitian.
ketiga, Observasi variabel-variabel faktor risiko dan faktor efek secara bersamaan berdasarkan status keadaan variabel saat pengumpulan data penelitian.
keempat, Analisis korelasi atau perbandingan ukuran antar kelompok-kelompok hasil yang diamati pada kegiatan penelitian.

Contoh Penelitian Cross Sectional
Contoh Penelitian Cross Sectional diambil dari penelitian oleh Ratih Suci Wijaya yang berjudul Hubungan Anemia Pada Ibu Hamil Dengan Kejadian Bayi Berat Lahir Rendah di Rumah Sakit Umum Daerah Raden Mattaher Jambi. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui korelasi penyakit anemia besi pada ibu hamil dengan berat badan bayi lahir (BBL),

Tahap pertama; identifikasi variabel yang akan diteliti.
Variabel defenden (efek): bobot bayi lahir.
Variabel indefenden (risiko): Anemia besi pada ibu hamil.

Tahap kedua; penetapan ranah studi penelitian yang meliputi sampel dan populasinya.
Subjek penelitian adalah ibu-ibu yang baru melahirkan, namun perlu dibatasi dari daerah mana mereka ini dapat hamil, apakah lingkup dirumah sakit umum, rumah sakit bersalin, atau rumah bersalin. Demikian pula batas waktunya juga ditentukan. Kemudian, sampel yang akan diambil menggunakan teknik random atau non random.

Tahap tiga; melakukan pengumpulan data, observasi atau pengukuran terhadap variabel defenden dan indefenden (dalam waktu yang sama). Caranya, dilakukan pengukuran berat badan bayi yang baru lahir dan dilakukan pemeriksaan kadar Hb darah ibu. 

Tahap keempat; tahap pengolahan dan analisis data penelitian, dengan cara melakukan perbandingan antara berat badan bayi lahir terhadap kadar Hb darah ibu. Dari hasil analisis, didapat bukti adanya atau tidak adanya keterkaitan antara anemia terhadap berat badan bayi lahir.

Dikutip dari Budiarto (2004) pendekatan Cross Sectional bersifat analitik antara hubungan penyakit anemia terhadap bobot kelahiran bayi. Ibu hamil yang akan melahirkan diperiksa Hb kemudian setelah bayi lahir dilakukan pengukuran terhadap beratnya. Kriteria inklusi, persalinan ibu hamil normal/fisiologis dengan waktu hamil cukup bulan. Batasan untuk anemia, Hb kurang dari 11gr%.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 56 ibu hamil yang mengalami anemia, 19,6% melahirkan bayi berat lahir rendah, sedangkan ibu yang tidak anemia 41 orang hanya 2,4% yang melahirkan bayi berat lahir rendah. Analisis data yang dilakukan dengan uji Chi-Square. Uji Chi-Square digunakan untuk menguji hubungan dua variabel nominal dan juga mengukur kuatnya hubungan antar variabel satu dengan variabel nominal lainnya (Wijayanto, 2009).

Kesimpulan dari penelitian, yaitu terdapat hubungan antara anemia pada ibu hamil dengan kejadian bayi berat lahir rendah dirumah sakit dengan p-value 0,026, dengan nilai OR=9,778 (Confidence Interval 95% = 1,208 - 79,128) dapat diartikan bahwa ibu hamil yang mengalami anemia berpeluang risiko 9,778 kali melahirkan bayi dengan berat lahir rendah dibandingkan dengan ibu hamil yang tidak mengalami anemia. Metode Cross Sectional dilakukan karena data dikumpulkan pada waktu yang hampir sama, dan bersifat analitis. Kekurangan penelitian ini adalah tidak diketahui kapan anemia terjadi pada ibu hamil dan perbandingan terhadap kedua kelompok, seperti tingkat pendidikan, asupan nutrisi, sosial ekonomi, dan lain-lain yang mungkin berpengaruh terhadap terjadinya anemia. 

Penelitian Longitudinal
Pengertian Penelitian Longitudinal
Penelitian Longitudinal (Longitudinal Research) merupakan jenis penelitian dibidang sosial dengan cara membandingkan perubahan subjek penelitian dalam rentang waktu tertentu. Termasuk dalam jenis penelitian jangka panjang karena memakan waktu pengamatan yang lama.

Menurut Syukur Kholil (2006), penelitian Longitudinal adalah penelitian dengan tujuan untuk perubahan atau pola sikap perilaku, pendapat, masyarakat dalam rentang waktu yang lama. Dalam penelitian Longitudinal, data dikumpulkan sekurang-kurangnya dua kali, atau dipandang setara dengan dua kali mengumpulkan data. Waktu penelitian adalah hasil penting dalam penelitian Longitudinal.

Jangka panjang yang dimaksud disini bukanlah dalam artian lama waktu pengamatan, melainkan terhadap periodisasi waktu pengamatan atau penelitian. Bisa saja, waktu penelitian longitudinal adalah penelitian gabungan dari beberapa periode waktu penelitian yang telah dilakukan sebelumnya kemudian digabung menjadi satu hasil kegiatan penelitian baru yang merupakan gabungan dari beberapa penelitian cross sectional dengan studi yang sama namun dengan rentang waktu yang berbeda secara berurutan. Ataupun, Kegiatan penelitian longitudinal adalah kegiatan penelitian yang memang baru dilakukan namun dilaksanakan dengan tahapan waktu yang berbeda secara berurutan ke masa depan. Jika dianalogikan, sama seperti halnya kegiatan memakan potongan kue tiramisu (contoh cross sectional), dimana jika potongan tertentu dari kue tersebut langsung dimakan pada waktu yang sama maka rasanya akan tetap sama, tetapi bagaimana jika bagian potongan yang sama tersebut dimakan setelah satu bulan kemudian, apakah rasa yang dirasakan tetap sama atau akan memiliki rasa yang berbeda ketimbang dimakan pada waktu sebelumnya. Perubahan inilah, yang akan menjadi hasil dari kegiatan penelitian longitudinal. Dimana tidak bisa dikatakan sebuah penelitian yang dilakukan selama satu tahun lebih lama dari pada kegiatan penelitian satu bulan, karena bisa jadi dalam satu bulan terdapat beberapa periodisasi waktu pengamatan atau penelitian, begitupun juga sebaliknya, untuk kegiatan penelitian yang dilakukan satu tahun, bisa jadi hanya terdiri dari dua periodisasi waktu pengamatan dimana tiap tahapan periode memang membutuhkan waktu pengamatan yang cukup lama. Kegiatan penelitian longitudinal bisa juga merupakan kegiatan penelitian berkelanjutan yang dilakukan secara terus menerus.

Tujuan Penelitian Longitudinal
Tujuan penelitian Longitudinal, yaitu mempelajari pola dan urutan perkembangan dan/atau perubahan suatu hal, sejalan dengan berlangsungnya perubahan waktu. Data hasil kegiatan penelitian biasanya ditampilkan dalam bentuk info grafik untuk dapat melihat hasil perubahan sesuai dengan periodisasi waktu pengamatan yang dilakukan.

Jenis Penelitian Longitudinal
Ada tiga macam bentuk penelitian Longitudinal, yaitu (Syukur Kholil, 2006) penelitian tren, penelitian panel, dan penelitian cohort.

Penelitian Tren (Time Series)
Penelitian tren (time series) merupakan salah satu bentuk penelitian Longitudinal yang pada umumnya dilakukan untuk mengukur perubahan pendapat dan sikap masyarakat tentang hal-hal yang sedang hangat, misalnya siapa calon pemimpin daerah yang akan dipilih oleh para pemilih.

Dalam penelitian tren (time series), pengumpulan data dilakukan sekurangnya dua kali. Perubahan data pendapat para calon pemilih pada masa kampanye diamati melalui penelitian tren (time series) ini. Sehingga hasil penelitian tren (time series) ini dapat memprediksi kekuatan masing-masing calon dari waktu ke waktu sesuai dengan pergeseran dan perubahan pendapat ditengah-tengah masyarakat. 

Penelitian Panel
Penelitian Panel juga bertujuan untuk mengamati perubahan pola pada populasi. Masa pengumpulan data juga minimal dilakukan dua kali. Bedanya, dengan penelitian Trend (time series) adalah penelitian Trend (time series) sampel penelitian pada setiap pengumpulan data pertama, kedua, dan seterusnya, adalah berbeda tetapi dalam populasi yang sama. Sedangkan dalam penelitian Panel, dimana sampel yang dikumpulkan pada proses penelitian harus sama antara kedua data yang dikumpulkan. 

Penelitian Panel biasanya dilakukan untuk melihat dan mengukur perubahan pendapat, sikap, dan perilaku sekelompok masyarakat sebelum dan sesudah diperkenalkan suatu program, produk atau hal-hal lain yang bersifat baru. Contoh penelitian Panel dari Godwin C. Chu, Alfian dan Wilbur Scramm yang berjudul Social Impact of Satellite Television in Rural Indonesia, mempelajari tentang pengaruh sosial tivi satelit pada kawasan pedesaan di Indonesia. Jumlah responden sebanyak 2248 peserta, dari 5 (lima) propinsi dijadikan sebagai sampel pengamatan. Data pertama, diambil pada tahun 1976 sebelum satelit Palapa pertama diluncurkan. Data selanjutnya, dikumpulkan pada tahun 1982, enam tahun dari waktu satelit Palapa mengudara, dimana televisi sudah mulai banyak dimiliki masyarakat pedesaan. 

Hasil penelitian mereka menunjukkan bahwa terjadi perubahan yang besar terhadap sikap dan perilaku masyarakat pedesaan sebelum dan sesudah masuknya televisi ditengah-tengah masyarakat. Perubahan itu meliputi segala aspek kehidupan, termasuk pengalaman agama dan kebiasaan bekerja. Kelebihan penelitian Panel adalah penelitian ini dapat menelusuri lebih jauh siapa para responden yang mengalami perubahan pola terhadap data pengamatan sebelumnya serta faktor yang menyebabkan perubahan pola atau sikap tersebut. Namun demikian, kelemahan yang dimiliki oleh penelitian ini biasanya adalah pengumpulan data lanjutan, dimana jumlah responden cenderung berkurang dari waktu ke waktu.

Penelitian Kelompok (Cohort study)
Penelitian cohort adalah jenis penelitian Longitudinal dimana data yang dikumpulkan dua kali atau lebih. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengukur perubahan pendapat, sikap, dan perilaku responden dari waktu ke waktu. Penelitian cohort adalah bagian dari penelitian longitudinal dengan sampel adalah kelompok atau kumpulan populasi yang berbagi karakteristik sama, atau berbagi pengalaman sama pada periode waktu tertentu, seperti waktu lahir atau waktu kelulusan sekolah, yang memperlihatkan hasil secara cross sectional pada interval waktu tertentu. Penelitian cohort merepresentasikan rancangan fundamental dari epidemiologi yang digunakan para peneliti pada bidang medis, perawatan, psikologi, ilmu sosial, dan pada bidang lainnya yang masih sulit untuk diamati secara individu melalui pendekatan statistik. 

dari gambar satu dapat diketahui berbedaan dari ketiga jenis penelitian longitudinal. mulai dari penelitian trend, penelitian panel, dan penelitian cohort. pada dasarnya ketiga jenis penelitian ini memiliki kesamaan yaitu waktu pelaksanaan dan topik penelitian, yang membedakan ketiga jenis penelitian ini adalah objek penelitian.
Gambar 1 ciri penelitian cross sectional

Karakteristik Penelitian Longitudinal
Menurut Ruspini (2000) karakteristik serta cakupan penelitian Longitudinal
satu, Data dikumpulkan untuk setiap variabel pada dua atau lebih periode waktu tertentu.
dua, Subjek atau masalah yang diamati adalah sama, atau dapat dibandingkan antara satu periode dengan periode berikutnya.
tiga, Analisis melibatkan perbandingan data yang sama dalam satu periode dengan antar metode yang berbeda. 

Pendapat lain yang menyatakan mengenai ciri-ciri dari penelitian Longitudinal, yaitu:
satu, Penelitian yang dilakukan antar periode waktu.
dua, Setidaknya terdapat dua/lebih kali penelitian dengan topik atau gejala yang sama dalam waktu yang berbeda. 
tiga, Kata kunci penelitian Longitudinal: ada upaya membandingkan antara hasil penelitian, biasanya untuk melihat perubahan yang terjadi. 

Ciri-ciri Penelitian Longitudinal
Secara langsung mengukur sifat (nature) dan tingkat (rate) perubahan dalam satu sampel yang sama pada tingkatan (stage) yang berbeda. Ciri-ciri penelitian Longitudinal:
satu, Waktu penelitian lama, atau kegiatan pengumpulan data yang dibutuhkan untuk kegiatan penelitian dilakukan pada lebih dari satu periodisasi waktu pengamatan.
dua, Memerlukan biaya yang relatif besar karena waktu pengamatan yang tidak sebentar, sehingga biaya operasional penelitian juga lebih besar dari pada penelitian dalam waktu singkat seperti cross sectional.
tiga, Melibatkan populasi yang mendiami wilayah tertentu dengan ciri dan karakteristik populasi atau kasus yang diamati adalah sama.
empat, Dipusatkan pada perubahan variabel amatan dari waktu ke waktu. Dengan kata lain data yang dikumpulkan adalah sama tetapi pada periode waktu yang berbeda. 

dari gambar ini diketahui bahwa perbedaan dari ketiga jenis penelitian longitudinal adalah pada objek penelitiannya
Gambar 2 Ciri-ciri penelitian longitudinal

Kelebihan dan Kekurangan Penelitian Longitudinal
Menurut Elizabet B. Hurlock (1978) ada beberapa manfaat dari penelitian Longitudinal:

Keuntungan penelitian Longitudinal, yaitu:
satu, Analisis perkembangan dari tiap individu yang perubahannya diamati terhadap waktu pengamatan pada beberapa periode.
dua, Meneliti perubahan kenaikan peningkatan individu, atapun bentuk perubahan-perubahan yang lainnya pada lingkungan sosial.
tiga, Analisis hubungan proses kematangan terhadap proses pengalaman.
empat, Pendekatan ini dapat menerima perbandingan dengan hasil uji yang lain. Memungkinkan juga untuk dilakukan pengamatan terhadap hasil uji atau pengamatan pada kegiatan penelitian yang lain pada periode waktu tertentu.
lima, Memungkinkan untuk melakukan perbandingan perubahan yang terjadi pada berbagai keadaan lingkungan luar. 

Kekurangan penelitian Longitudinal, yaitu:
satu, Waktu penelitian yang relatif lama. Karena penelitian longitudinal yang bersifat sekuensial terhadap waktu, maka dibutuhkan kesabaran oleh para peneliti untuk mendapatkan data yang diperlukan untuk merumuskan hasil dari kegiatan penelitian.
dua, Biaya penelitian yang besar. Dengan waktu pengamatan yang lama, sudah pasti biaya operasional yang diperlukan juga tidak lebih sedikit daripada kegiatan penelitian yang hanya dilakukan pada satu periode waktu saja dengan kondisi yang sama.
tiga, Banyak data yang diambil tidak bersifat praktis untuk dapat langsung dipakai, karena yang dibutuhkan tidak bisa langsung dapat sekaligus melainkan secara berurutan terhadap periode waktu tertentu. Bisa jadi, pada saat kegiatan penelitian pada tahapan pengamatan lanjutan, data yang dibutuhkan sudah tidak tersedia atau sudah usang.

Langkah Perancangan Penelitian Longitudinal
Penelitian Longitudinal adalah penelitian yang dilakukan pada periode waktu tertentu, untuk melihat perubahan yang terjadi mulai awal sampai waktu yang ditentukan secara berurutan. Oleh karena itu, rancangan (design) penelitian ini digambarkan sebagai berikut (gambar 3):

dari gambar ini dijelaskan tahapan atau skema dari penelitian longitudinal
Gambar 3 Skema Penelitian Longitudinal

Dari skema diatas dapat disimpulkan bahwa langkah-langkah penelitian Longitudinal adalah sebagai berikut:
langkah satu, Pengenalan faktor risiko serta dampak.
langkah dua, Menetapkan subjek penelitian.
langkah tiga, Memilah subjek yang memiliki faktor risiko baik atau positif terhadap sebaliknya. 
langkah empat, Memilah subjek kontrol.
langkah lima, Observasi perkembangan subjek dalam skala waktu tertentu, hingga muncul atau tidaknya dampak pada kedua hasil uji kelompok.
langkah enam, Menganalisis dengan membandingkan proporsi subjek yang mendapat efek negatif baik pada kelompok risiko positif maupun kelompok kontrol.

Contoh Penelitian Longitudinal
Penelitian longitudinal tidak hanya dibatasi pada bidang medis ataupun kesehatan, beberapa bidang lain juga bisa dilakukan dengan menggunakan penelitian longitudinal, beberapa hal dalam kegiatan bisnis juga bisa diamati dengan menggunakan penelitian longitudinal, seperti:

satu, Tren pasar dan brand awareness: untuk memahami pola pasar dan kesadaran penggunaan merek produk, dapat dilakukan pengamatan pasar dan kegiatan survei pasar. Dengan kegiatan penelitian longitudinal, dapat diketahui produk mana yang diminati dan tidak diminati oleh komsumen. Kegiatan penelitian longitudinal dilakukan pada periode waktu tertentu untuk dapat lebih memahami pola pergerakan pasar dan volatilitas perubahannya serta antisipasi yang dapat dilakukan produsen untuk tetap menjaga stabilitas pasar.

dua, Timbal balik produk: jika sebuah perusahaan baru meluncurkan jenis produk baru dan ingin mengetahui bagaimana manfaat produk bagi para konsumen maka survei timbal balik produk dapat dilakukan terhadap konsumen. Feedback atau timbal balik berupa tanggapan konsumen terhadap produk dikoleksi selama periode waktu tertentu. Setelah data terkumpul, perusahaan dapat menanggapi hasil dari timbal balik balik konsumen tersebut sebagai bahan evaluasi produk dimasa yang akan datang.

tiga, Kenyamanan konsumen: survei kenyamanan konsumen membantu organisasi atau pelaku bisnis untuk mengetahui tingkat kenyamanan dan ketidaknyamanan konsumen mereka. Tingkat kenyamanan dapat diketahui dalam jangka waktu yang lama, sejauh apapun, sesuai dengan kemauan dari organisasi atau pelaku bisnis.

empat, Rasa memiliki dari para karyawan: Pada sebuah organisasi atau perusahaan, sangat penting untuk mengetahui rasa keterikatan yang dimiliki oleh para karyawannya terhadap perusahaan atau organisasi tempat mereka bekerja. Dengan kegiatan penelitian atau pengamatan berkelanjutan, survei rasa keterikatan karyawan terhadap perusahaan dapat digunakan untuk memahami tingkat rasa keterikatan dan timbal balik apa yang perlu dilakukan oleh perusahaan atau organisasi untuk meningkatkan dan menjaga rasa keterikatan atau loyalitas tersebut.

Contoh penelitian Longitudinal diambil dari penelitian oleh Penelitian yang dilakukan oleh Kenneth L. Bernhardt (Georgia State University), Naveen Donthu (Georgia State University), dan Pamela A. Kenneth (University of South Alabama) dengan judul penelitian,

Analisis Kepuasan dan Longitudinal 

ABSTRAK,
Baru-baru ini, perhatian yang signifikan telah difokuskan pada kepuasan pelanggan. Namun, masih sedikit studi yang menghubungkan kepuasan dengan kinerja, dan bahkan masih sedikit studi yang menghubungkan tentang keduanya melalui penelitian data times-series.

Dalam studi ini, dilakukan analisis longitudinal kepuasan dan kinerja untuk rantai nasional (national chain) restoran cepat saji. Dengan total 342.000 konsumen responden, 3009 pegawai responden, dan 12 bulan analisis kinerja restoran. Dimana terdapat hubungan positif dan signifikan antara kepuasan konsumen dan kepuasan pegawai dalam suatu periode waktu tertentu, tidak terdapat hubungan signifikan antara kepuasan konsumen dan kinerja, dan kepuasan pegawai dan kinerja, yang ditemukan dalam cross sectional analisis.

Namun, pada analisis time-series data (data periode waktu) mengungkapkan adanya hubungan positif dan signifikan yang terdapat antara perubahan kepuasan konsumen (pelanggan) dan perubahan pada kinerja perusahaan.

PENELITIAN LONGITUDINAL TREND STUDY ATAU TIME SERIES ANALYSIS
Topik = hubungan kinerja (performa) terhadap kepuasan (satisfaction).
Waktu = dilakukan selama 12 bulan dimulai pada tahun 1992 sampai tahun 1993.
Objek Penelitian = pada penelitian ini data yang akan diteliti terdiri dari tiga sumber data independen yang terdiri dari :

Kepuasan pelanggan,
Data diambil dari 742 restoran dimana data sampel (konsumen) yang didapat sebanyak 342.308 sampel. Survei dilakukan setiap bulan dengan 100 pertanyaan kuesioner per restoran. Data yang dikoleksi dijaga dengan seksama dan diurutkan sesuai dengan periode waktu. Metode sampling diambil untuk memastikan data mewakili jumlah proporsi perkiraan volume penjualan. 

Kepuasan karyawan,
Data diambil dari karyawan dilokasi restoran cepat saji yang dikumpulkan secara terpisah. Setiap restoran dikirimi paket kuesioner, dan pihak manager diminta untuk mendistribusikan kepada seluruh karyawan bersama-sama dengan ongkos yang dibayar kembali ke dalam amplop yang ditujukan kepada independen yang melakukan penelitian. Setiap data responden akan diberlakukan secara anonim, sehingga setiap karyawan diminta untuk mengisi secara langsung. Total dari 3099 kuesioner kembali dari 382 dari 472 restoran.

Dan informasi kinerja untuk rantai nasional restoran cepat saji.
Untuk set data terakhir disediakan oleh perusahaan masing-masing. Beberapa tolak ukur dari data kinerja perusahaan diambil seperti penjualan, jumlah pelanggan, dan profitabilitas (keuntungan). Nomor identifikasi untuk masing-masing restoran digunakan untuk menghubungkan tiga database.

HASIL PENELITIAN 

Dengan menggunakan cross sectional analisis,
Dimana terdapat hubungan positif dan signifikan antara kepuasan konsumen dan kepuasan pegawai dalam suatu periode waktu tertentu,

TIDAK TERDAPAT hubungan signifikan antara kepuasan konsumen dan kinerja, dan kepuasan pegawai dan kinerja.

Dengan menggunakan analisis time-series data (data periode waktu),
Mengungkapkan adanya hubungan positif dan signifikan yang terdapat antara perubahan kepuasan konsumen (pelanggan) dan perubahan pada kinerja perusahaan.

Hal itu berdampak pada peningkatan kepuasan konsumen terhadap keuntungan, meskipun hal ini masih belum jelas untuk pengamatan jangka pendek karena berbagai faktor, namun ini memberikan dampak positif untuk jangka panjang.

Kesimpulan
Penelitian Cross Sectional bertujuan untuk mendapatkan sebuah sampel dari populasi dalam suatu waktu. Setelah itu, memeriksa status data-data yang diperoleh pada titik waktu yang sama dari masing-masing individu dalam sampel tersebut. Artinya, tiap-tiap subjek yang diteliti hanya dilakukan observasi satu kali saja dan proses pengukuran dilakukan terhadap status karakter variabel subjek saat diperika.

Penelitian Longitudinal merupakan salah satu jenis penelitian yang bertujuan untuk mengetahui perubahan sikap, perilaku ataupun pendapat sekelompok orang dari waktu ke waktu. Biasanya dalam pengumpulan data dalam penelitian Longitudinal terbilang lama, karena pengumpulan data dilakukan lebih dari 2 kali dalam penelitian. Namun demikian, penelitian Longitudinal mempunyai beberapa hasil penelitian dengan pendekatan metode lain, yaitu hasil penelitian yang diperoleh menunjukkan hasil yang lebih spesifik terhadap topik penelitian yang sedang dipahami. Adapun untuk kelemahan dari metode penelitian ini adalah pada proses pelaksanannya memerlukan tenaga, waktu, serta dana yang lebih banyak. 


DAFTAR RUJUKAN

Budiarto, Eko. 2004. Metodologi Penelitian Kedokteran: Sebuah Pengantar. Jakarta Penerbit Buku Kedokteran EGC.

Kholil, Syukur. 2006. Metodologi Penelitian. Ciptapustaka Media: Bandung.

Notoadmodjo. 2002. Metodologi Penelitian Kesehatan. PT Rineka Citra: Jakarta.

Nurdini, Allis. 2006. Cross-Sectional Vs Longitudinal: Pilihan Rancangan Waktu dalam Penelitian Perumahan Pemukiman. Dimensi Teknik Arsitektur. Vol. 34, No. 1, Juli 2006: 52-58.

Sayogo, Savitri. 2009. Studi Cross-Sectional atau potong lintang. Shklovski, Irina, Kraut, dan Rainie, Lee. 2004. "The Internet and Social Participation: Constrating Cross-Sectional and Longitudinal Analysis. Journal of Computer-Mediated Communication. Vol. 10, No. 1.

Sukmadinata, Nana Syaodih. 2010. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

Swarjana, Ketut. 2012. Metodologi Penelitian Kesehatan. Yogyakarya: CV Andi Offset.

Syukur Kholil. 2006. Metodologi Penelitian. Bandung: Citapustaka Media.

Taylor, Nick, et al. 2000. The Value of Longitudinal Research as a Basis for Subsequent Social Impact Assessment. Paper for the International Association for Impact Assessment. 20th Annual Meeting. Hongkong.










"Research is what i am doing when i don't know what i am doing" ~Werhner von Braun










Related Posts

Penelitian Cross Sectional dan Penelitian Longitudinal
Oleh

5 komentar:

  1. thx infonya, buat referensi haha

    BalasHapus
  2. ada materi tentang metode penelitian yang lain??

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya nanti klo ada waktu, akan ditambah materi tentang metodologi penelitian yang lain

      Hapus
  3. klo bisa untuk penelitian cross sectionalnya juga dikasih studi kasus, biar lebih lengkap lagi materinya...

    BalasHapus

"semoga yang memberikan komentar diberikan berkah kebaikan dari Allah, dijauhkan dari kejahatan, dan diberikan pahala ilmu dan amal jariyah dari sepenggal kata yang ia tinggalkan amiin :) "